dinamika
DINAMIKA SOSIAL BUDAYA INDONESIA DALAM PEMBANGUNAN
Makalah
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas
dari Mata Kuliah Sistem Sosial Budaya Indonesia
Dosen : Engkos Koswara, M.Ag

Disusun Oleh :
KELOMPOK 4
Rida Permata Sari 1138010213
Rinrin Rosilawati 1138010215
Risna Mulyanti 1138010219
Santi Nurfaridah 1138010234
KELAS F/ II
JURUSAN ADMINISTRASI NEGARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2014
KATA PENGANTAR
Puji
dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
limpahan Rahmat dan karunia-nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini
tepat pada waktunya, tidak lupa shalawat serta salam kita semoga tetap tercurah
limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Dalam
makalah Sistem Sosial Budaya Indonesia ini penulis membahas tentang Dinamika
Sosial Budaya Indonesia dalam Pembangunan. Penulis mengkhususkan dalam makalah
ini pengetahuan yang sangat memberi wawasan kepada kita selaku mahasiswa,
banyak sekali hal-hal yang dapat di pelajari dari makalah ini.
Penulis
mengucapkan terimakasih banyak kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam
penulisan makalah ini sehingga dapat di selesaikan dengan baik. Penulis
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk
penyusunan maupun materinya. Kritik dan saran dari pembaca sangat penulis
harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Bandung, Maret 2014
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................. i
DAFTAR ISI.............................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN......................................................................... 1
1.1 Latar Belakang....................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah.................................................................................. 2
1.3 Tujuan Penulisan.................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN .......................................................................... 3
2.1 Perkembangan Kebudayaan
Indonesia..................................................
2.2 Masyarakat Nusantara:
Bentukan ke Pelbagai Penjuru..........................
2.3 Manusia Indonesia:
Individu, Keluarga, dan Masyarakat.....................
2.4 Nilai Sosila Budaya
Indonesia...............................................................
BAB III PENUTUP...................................................................................
3.1 Kesimpulan............................................................................................
3.2 Saran......................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Berbicara tentang individu
berarti tidak akan terlepas dari bagaimana kehidupannya. Setiap individu hidup di dunia ini tentu tidak sendirian. Antar
individu harus saling berinteraksi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hubungan
antara manusia yang satu dengan yang lain sangat diperlukan dalam kehidupan
sehari-hari, dikarenakan manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat
hidup sendiri atau masih membutuhkan bantuan dari pihak lain. Bersosialisasi
pun sangat penting dalam menjalin hubungan yang baik antara manusia yang satu
dengan yang lainnya.
Jika tidak
adanya individu, maka keluarga dan masyarakat pun tidak akan tercipta. Begitu
pula dengan individu, tidak akan bisa berjalan sendiri jika tidak adanya
keluarga dan masyarakat, karena dengan adanya keluarga dan masyarakat,
masing-masing individu dapat mengekspresikan segala hal yang berhubungan dengan
sosial. Aspek individu, keluarga, masyarakat dan kebudayaan adalah aspek-aspek
sosial yang tidak bisa dipisahkan.
Manusia
dalam kesehariannya tidak akan lepas dari kebudayaan, karena manusia adalah
pencipta dan pengguna kebudayaan itu sendiri. Manusia hidup karena adanya
kebudayaan, sementara itu kebudayaan akan terus hidup dan berkembang manakala
manusia mau melestarikan kebudayaan dan bukan merusaknya. Dengan demikian
manusia dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena dalam
kehidupannya tidak mungkin tidak berurusan dengan hasil-hasil kebudayaan.
Segala sesuatu yang dilakukan oleh
manusia tidak terlepas dari suatu nilai sosial. Nilai sosial adalah segala
sesuatu yang dianggap baik dan benar, yang diidam-idamkan masyarakat. Nilai
sosial bersumber dari kebiasaan yang sudah turun temurun dan berlaku pada suatu
masyarakat atau bersumber dari adat istiadat, budaya, atau tradisi setempat. Sebagai
petunjuk arah bertindak dan bersikap, serta sebagai pemandu serta pengontrol
sikap dan tindakan manusia.
Bangsa Indonesia baik secara
individu baik secara anggota masyarakat diharuskan memahami, mengetahui dan
mengamalkan nilai-nilai fundamental. Disamping itu sebagai suatu bangsa yang
bertekat untuk mengembangkan diri dalam kehidupan antar bangsa yang layak
dimuka bumi ini, maka setiap kegiatannya seharusnya diwarnai oleh mentalitas
yang memantulkan ciri-ciri kepribadian yang membedakan bangsa dengan bangsa
lainnya.
Pada
penulisan makalah ini, diuraikan mengenai Dinamika Sosial Budaya Indonesia dalam
Pembangunan yang mencakup: Perkembangan Kebudayaan, Masyarakat Nusantara,
Manusia Indonesia dan Nilai Sosial Budaya Indonesia.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
perkembangan kebudayaan Indonesia?
2.
Bagaimana
masyarakat nusantara dalam bentukan ke pelbagai penjuru?
3.
Apa
pengertian manusia Indonesia yang mencakup individu, keluarga dan masyarakat?
4.
Bagaimana
nilai sosial budaya Indonesia?
1.3
Tujuan Penulisan
1.
Untuk
mengetahui perkembangan kebudayaan Indonesia.
2.
Untuk
mengetahui masyarakat nusantara dalam bentukan ke pelbagai penjuru.
3.
Untuk
mengetahui manusia Indonesia yang mencakup individu, keluarga dan masyarakat.
4.
Untuk
mengetahui nilai sosial budaya Indonesia
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Perkembangan Budaya Indonesia
Kebudayaan Indonesia itu bukanlah sesuatu yang padu dan yang bulat,
tetapi sesuatu yang terjadi dari berbagai unsur suku bangsa.Di daerah Indonesia
yang luas terdapat bermacam-macam kebudayaan dimana satu dengan yang lainnya
berbeda karena itu disebabkan oleh perjalanan yang berbeda.
Sebagaimana kita tahu bahwa unsur sejarah yang menentukan
kebudayaan Indonesia itu terbagi dalam 5 lapisan (St. Takdir Alisjahbana, 1982:
7 dan seterusnya) yaitu:
1.
kebudayaan
Indonesia ahli
2.
kebudayaan
india
3.
kebudayaan
islam
4.
kebudayaan
modern
5.
kebudayaan
bhineka tunggal ika.[1]
a.
Kebudayaan Indonesia Asli
Kebudayaan Indonesia asli tentu itu
sebelum datangnya india ke Indonesia.Di Indonesia terdapat banyak bahasa daerah
dan dalam hukum adat pun jelas kelihatan perbedaan antara lingkungan hukum adat
yang satu dengan yang lain. Meskipun banyak perbedaan antara kebudayaan yang
satu dengan yang lain, ciri –ciri hakikat yang sama diantara
kebudayaan-kebudayaan itu sedemekian banyak dan
nyata sehingga dapat kita menggolongakan kepada dasar yang sama.
Ekonomi, hukum, pemerintahan dan
kesenian bukanlah keaktifan manusia yang terpisah-pisah, tetapi semua itu erat
hubungannya, dimana yang satu dengan yang lain itu berada dibawah naungan
anggapan dan konsep-konsep agama. Demikian juga perkawinan, kelahiran dan
kematian bukanlah kejadian atas diri manusia secara individu, tetapi seluruh
masyarakat berkepentingan kepadanya dan oleh karenanya terikat kepada berbagai
aturan masyarakat. Malahan dilihat dari satu sisi, sekalian perbuatan dan
kepentingan manusia itu tiada lain dari pada bagian-bagian dari satu proses
alam semesta, kosmos, dan hanya apabila semua itu berlaku menurut aturan
kesatuan yang lebih besar dan bersifat suci itu, maka sesuatu perbuatan atau
kepentinga itu akan selamat.
Dalam hubungan inilah telah
selayaknya bahwa ilmu yang tertinggi ialah ilmu tentang roh-roh dan
tenaga-tenaga yang gaib itu, yang berhubungan dengan proses dan tertib kosmos.
Demikian pulalah orang yang terkuasa dan terpelajar dalam masyarakat itu ialah
orang-orang yang mengetahui tentang roh-roh dan tenaga-tenaga gaib dalam
hubungan proses dan ketertiban kosmos serta oleh pengetahuannya itu dapat
mempengaruhi untuk kepentingan manusia.
Ciri lain dari masyarakat indonesia
yang lama ialah berkuasanya nilai solidaritas. Susunan masyarakat merupakan
persekutuan yang kecil yang hidup dalam desa atau mengembara dalam lingkunag
daerah tertentu. Suatu masyarakat juga di masyarakat indonesia yang asli adalah
besarnya pengaruh perhubungan darah. Persekutuan itu terjadi dari satu atau
beberapa suku dan perhubunagn didalam maupun diantara suku-suku yang diatur
oleh adat. Dalam masyarakat dan kebudayaan indonesia asli terdapat beberapa
corak susunan suku, yang menentukan cara menghitung keturunan, menentukan
bentuk perkawinan, ha katas tanah, soal warisan dan sebagainya. Dua susunan
kerabat yang mendasar ialah patrilineal dan matrilineal, disisi itu ada pula
susunan kekerabatan yang sama memberatkan kepada pihak laki-laki maupun kepada
pihak lain.
Didalam budaya seni, indonesia
mempunyai kemajuan. Khususnya Tarian tradisional telah mengalami kemajuan yang
cukup baik dan telah meranjak ke internasional. Akan tetapi ada beberapa bagian
dari budaya indonesia yang di klaim oleh negara lain. Berikut, data dari budaya
yang di klaim oleh negara lain:
·
Batik
dari jawa oleh Adidas
·
Naskah
kuno dari riau oleh pemerintah Malaysia
·
Naskah
kuno dari sumatera barat oleh pemerintah Malaysia
·
Naskah
kuno dari sulawesi selatan oleh pemerintah Malaysia
·
Naskah
kuno dari sulawesi tenggara oleh pemerintah Malaysia
·
Rendang
dari Sumatera Barat oleh Oknum WN Malaysia
·
Sambal
bajak dari jawa tengah oleh oknum WN Belanda
·
Sambal
petai dari riau oleh oknum WN Belanda
·
Tempe
dari jawa oleh beberapa perusahaan asing
·
Lagu
rasa sayange dari maluku oleh pemerintah Malaysia
·
Tari
reog ponorogo dari jawa timur oleh pemerintah Malaysia
·
Lagu
soleram dari riau oleh pemerintah Malaysia
·
Lagu
injit-injit semut dari jambi oleh pemerintah Malaysia
·
Alat
musik gamelan dari jawa oleh pemerintah Malaysia
·
Tari
kuda lumping dari jawa timur oleh pemerintah Malaysia
·
Tari
piring dari sumatera barat oleh pemerintah Malaysia
·
Lagu
kakak tua dari maluku oleh pemerintah Malaysia
·
Lagu
anak kambing saya dari nusa tenggara oleh pemerintah Malaysia
·
Kursi
taman dengan ornamen ukir khas jepara jawa tengah oleh oknum WN Perancis
·
Pigura
dengan ornamen ukir khas jepara dari jawa tengan oleh oknum WN Inggris
·
Motif
batik perang dari yogyakarta oleh pemerintah Malaysia
·
Desain
kerajinan perak desak suwarti dari bali oleh oknum WN Amerika
·
Produk
berbahan rempah-rempah dan tanaman obat asli Indonesia oleh shiseido Co. Ltd
·
Badik
tumbuk lada oleh pemerintah Malaysia
·
Kopi
gayo dari aceh oleh perusahaan multinasional (MNC) Belanda
·
Kopi
toraja dari sulawesi selatan oleh perusahaan Jepang
·
Musik
indang sungai garinggiang dari sumatera barat oleh Malaysia
·
Kain
ulos oleh Malaysia
·
Alat
musik angklung oleh pemerintah Malaysia
·
Lagu
jali-jali oleh pemerintah Malaysia
·
Tari
pendet dari bali oleh pemerintah Malaysia
Dapat disimpulkan bahwa kebudayaan
indonesia asli ini, dapat dikatakan bahwa kebudayaan itu dikuasai oleh nilai
agama, yang diikuti oleh nilai solidaritas dan nilai kesenian. Sedangkan dalam
sifatnya dalam demokrasi, nilaikuasa dalam susunan masyarakat adalah lemah. Nilai
ilmu lemah karena pemikiran yang berasio belum berkembang, sedangkan perasaan
masih terlampau berkuasa dalam menghadapi alam. Nilai ekonomi belum juga belum
berkembang karena belum timbulnya bekerja keras. Dalam hubungan ini teknik
tidak dapat tumbuh karena orang masih terpengaruh karena kepercayaan bahwa
kecakapan dan kekuasaan yang sesungguhnya terletak pada yang gaib, baik berupa
jiwa maupun tenaga gaib.
b.
Kebudayaan India
Sejak zaman praksara, penduduk Indonesia dikenal sebagai pelaut dan
sanggup mengarungi lautan luas. Ahli ilmu bumi bangsa Yunani bernama Claudius
Ptolomeus menyebutkan bahwa ada sebuah pulau bernama Zabadiu, yang dimaksud
adalah yavadwipa atau pulau jawa atau terkenal dengan sebutan pulau padi.
Menurut hornell, perahu-perahu bercadik adalah milik khusus bangsa indonesia.
Perahu bercadik juga ada di india selatan akibat pengaruh dari indonesia sebab
di sana terdapat suku thanar yang bermatapencaharian budi daya kelapa dan
berdagang dengan pedagang indonesia. Hubungan dagang antara indonesia – india
ternyata menambah kemampuan untuk saling bertukar kebudayaan, pengaruh agama
dan budaya india masuk ke nusantara. Hubungan dagang tersebut merupakan faktor
utama terjadinya kontak indonesia – india yang menyebabkan penyebaran budaya
india ke indonesia. Namun demikian, unsur indonesia kuno tetap kuat tampak
dominan, misalnya, kasta tidak berjalan dengan baik di indonesia, bahkan
cenderung tidak ada. Hasil seni candi di indonesia yang menonjol pada masa
indonesia kuno adalah pembangunan candi-candi besar. Bukti pengaruh budaya
india di indonesia sebagai berikut:
·
Adanya
arca buddha dari perunggu di sempaga (sulawesi selatan) sebagai bukti tertua
bergaya amarawati (gaya india selatan), arca sejenis juga ditemukan di jember
dan bukit siguntang, sumatra selatan. Arca buddha lainnya yang ditemukan di
kota bangun, kutai, bergaya gandhara (gaya india utara).
·
Ditemukan
prasasti di kerajaan kutai dan tarumanegara yang terpengaruh india, yaitu
berbahasa sanskerta dan berhuruf pallawa.
·
Adanya
bangunan candi dan arca yang terpengaruh hindu dan buddha.
·
Adanya
prasasti sriwijaya yang ditulis dalam bahasa melayu kuno berhuruf pallawa yang
sudah menonjol unsur indonesianya.
·
Adanya
bukti arkeologi di indonesia bahwa pengaruh india ada dalam budaya nusantara.
·
Dalam
berbagai hal pengaruh india itu terlihat. Di bidang pemerintahan muncul
kerajaan, dalam bidang kebudayaan pengaruh india melahirkan candi megah di
nusantara, misalnya, candi borobudur, prambanan, di bidang sosial melahirkan
ikatan-ikatan desa dan ikatan feodal.[2]
Dalam kebudayaan india yang menjadi dasar feodalisme dalam sejarah
indonesia, nilai yang tertinggi adalah nilai agama. Bedanya dengan nilai agama
dalam nilai kebudayaan indonesia asli adalah
kalau dalam kebudayaan india nilai agama lebih berasio dan lebih maju,
bersistem dan pikirkan ke segala penjuru.Berbeda sekali dalam kebudayaan
Indonesia asli, nilai kedua bukanlah nilai solidaritas, tetapi nilai kekuasaan
yang berpokok pada kedudukan dewa-dewa dan turun bertingkat-tingkat sampai
makhluk yang terendah. Sejalan dengan nilai agama dan nilai kesusilaan adalah
perkembangan nilai seni, yang mendapat isi yang besar dari agama dan mendapat
pusat pengolahan yang kaya pada istana-istana raja dan sokongan yang bergairah
dari golongan bangsawan.
Dalam hubungan tersebut, meskipun nilai teori dan ekonomi tidak
menjadi nilai yang berkuasa dan menentukan etika kebudayaan, tetapi dalam
hubungan bertambah pengaruhnya kerasioan serta bertambah meluasnya daerah dan
perhubungan yang dikuatkan pula oleh kecakapan membaca dan menulis.Kedua nilai
ini memperlihatkan kemajuan jika dibandingkan dengan kebudayaan Indonesia asli
sebelumnya. Nilai solidaritas yang merupakan salah satu nilai terpentingdalam
kebudayaan Indonesia asli tenggelam dalam lingkungan system kasta dan
kerajaan-kerajaan feudal yang besar itu.
c.
Kebudayaan Islam
Pada abad ke – 14 atau juga sudah abad ke 13 M, bangsa Indonesia
berkenalan pula dengan kebudayaan yang baru, yaitu kebudayaan islam. Seperti kebudayaan
asli dan hindu, kebudayaan islam juga berpusat kepada tenaga gaib (tuhan), yang
didalam islam dinamakan Allah. Akan tetapi berbeda dengan animisme dan
dinamisme kepercayaan kebudayaan Indonesia asli dan berbeda dengan hierarki
dewa-dewa dan imanentisme kebudayaan india, dalam kepercayaan islam ada suatu
jarak antara manusia, allah dan alam.
Dengan ayat-ayat alquran, kitab suci agama islam, disimpulkan
tentang perhubungan allah, manusia dan alam. Allah yang maha kuasa itu adalah
asal pencipta dan segala sesuatu. Diciptakan alam semesta dan diaturnya
matahari dan bintang-bintang diaturnya bumi dan ditumbuhkannya tumbuh-tumbuhan
di atasnya. Alllah yang menciptakan, menumbuhkan, memelihara serta menjaga
segala bentuk dan jenis-jenis tumbuhan dan hewan.
Dalam perkembangan islam yang cepat sesudah abad pertama hijrah,
dalam waktu yang pendek, kebudayaan islam berkenalan dengan filsafat kebudayaan
yunani kuno dengan perantaran terjemahan dibuat kedalam bahasa arab. Dengan
demikian kebudayaan islam menjadi pewaris filsafat dan ilmu-ilmu yang bukan
hanya diulang-ulang saja., tetai terus ditumbuhkan dengan pemikiran dan
penyelidikan yang bebas, yang dilakukan oleh pemeluk agama islam maupun pemeluk agama kristen dan yaahudi yang hidup
dalam suasana kebebasan arab-islam.
Bukan saja ilmu filsafat yunani yang dicerna tetapi juga hasil
kebudayaan persia, india, turki, cina, eropa dan terbanyak kebudayaan yang lain
menjadi bagian yang penting dari kebudayaan islam. Sehingga tidak berlebih
apabila kita berkata, bahwa kebudayaan islam pada permulaan abad pertengahan
adalah kebudayaan umat manusia yang pertama dengan sadar mencerna segala
kebudayaan di barat dan di timur yang ada di zaman itu.
d.
Kebudayaan Modern
Ciri yang terpenting dari ilmu modern adalah kekuatan disiplin,
cara-cara berfikir dan penyelidikannya yang menuju pengetahuan positif yang
teliti.Kemajuan ilmu yang terpesat dimungkinkan oleh kejadian-kejadian dalam
abad ke 17, ketika ahli-ahli berpendapat bahwa kesimpulan-kesimpulan ilmu mesti
sejauh mungkin berdasarkan ukuran-ukuran kuantitatif.Hal ini disebabkan oleh
kemajuan pemikiran matematika yang mendapat kesempatan berkembang lebih cepat dengan
memakai angka-angka Arab.
Dewasa ini
sudah biasa orang menghubungkan kebudayaan modern dengan
kondisi-kondisi kehidupan tak terhindarkan yang diciptakannya, seperti
meluasnya berbagai bentuk kemerosotan nilai yang berpangkal dari hedonisme,
kehampaan spiritual dan hasrat melampaui batas terhadap kebebasan. Kondisi lain
yang tak terhindarkan ialah alienasi dengan berbagai manifestasinya, sikap
asosial dan nihilisme yang membuat manusia kehilangan makna dalam hidupnya dan
dengan demikian pula kehilangan tujuan dalam hidupnya. Semua itu merupakan
manifestasi dari krisis yang dialami manusia modern yang hidup dalam
peradaban serba materialistis.
Tetapi apabila
orang berbicara tentang kebudayaan dan peradaban modern serta krisis-krisis
yang ditimbulkannya, biasanya orang hanya menunjuk pada kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi sebagai biang keladinya, dan lupa bahwa sumber dari
krisis itu adalah berbagai manipulasi dan penyalahgunaan terhadap kemajuan yang
telah dicapai manusia, khususnya di bidang ekonomi, politik, ilmu pengetahuan
dan teknologi. Orang juga lupa bahwa sumber dari berbagai krisis yang dihadapi
manusia sebenarnya dapat dicari pada falsafah hidup, sistem nilai dan gambar
dunia (weltanshauung) yang mendasari kebudayaan modern.Tentu
saja tidaklah mudah untuk memastikan falsafah hidup yang bagaimana yang
benar-benar mendasari kebudayaan modern, oleh karena begitu banyak aliran
falsafah dan ideologi yang berkembang dalam sejarah pemikiran Barat. Pada
umumnya pula jika orang berbicara tentang kebudayaan modern maka orang hanya
ingat bahwa fundasi yang membentuk kebudayaan Barat ialah Helenisme, atau
semangat kebudayaan Yunani yang mencintai pemikiran rasional, penelitian ilmiah
dan demokrasi. Semangat Helenisme ini kemudian dikaitkan dengan sejarah
munculnya Renaisance yang memicu timbulnya revolusi ilmu pengetahuan pada abad
ke-17 dan 18 M, serta lahirnya falsafah rasionalisme dan empirisme. Orang lupa
pada anasir dominan lain yang mendasari pembentukan kebudayaan dan peradaban
modern, yaitu Hebraisme.
Dengan pertumbuhan
ini, bangkitlah suatu sikap yang baru terhadap alam, suatu pemandangan hidup
timbul dan terciptalah suatu suasana kebudayaan yaitu suasana kemajuan
kebudayaan berdasarkan kemajuan ilmu manusia yang berarti juga kemampuan
kekuasaann manusia atas alam. J.B Burry menunjukan bahwa ide kemajuan itu tidak
ada di abad pertengahan, malahan tidak ada pada permulaan renaissance. Kemudian
timbul di abad ke 17 sebagai hasil penegasan dua aksioma Cartesius. Pertama,
tentang kekuasaan rasio dan kedua tentang tidak berubah-ubahnya hukum alam.Dengan
ini lambat laun terselisihkan kekuasaan gereja dan demikian juga kekuasaan ahli
piker yunani, maka terbukalah jalan untuk berkuasanya nilai ilmu atau nilai
teori dalam kebudayaan modern demokrasi.
e.
Kebudayaan
Bhineka Tunggal Ika
Arti Bhinneka Tunggal Ika adalah berbeda-beda
tetapi satu jua yang berasal dari buku atau kitab sutasoma karangan Mpu
Tantular / Empu Tantular. Secara mendalam Bhineka Tunggal Ika memiliki makna
walaupun di Indonesia terdapat banyak suku, agama, ras, kesenian, adat, bahasa,
dan lain sebagainya namun tetap satu kesatuan yang sebangsa dan setanah air.
Dipersatukan dengan bendera, lagu kebangsaan, mata uang, bahasa dan lain-lain
yang sama.Kata-kata Bhinneka Tunggal Ika juga terdapat pada lambang negara
Republik Indonesia yaitu Burung Garuda Pancasila. Di kaki Burung Garuda
Pancasila mencengkram sebuah pita yang bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika.
Kata-kata tersebut dapat pula diartikan : Berbeda-beda
tetapi tetap satu jua.[3]
Setelah kita
mengikuti kebudayaan yang ada di
Indonesia dengan perurutan keempat kebudayaan yang berbeda-beda konfigurasinya,
dapat sekarang kita pahami kesatuan budaya
Indonesia dengan bermacam-macam kita sebut bhineka tunggal ika.Ada daerah yang
masih hidup dengan kebudayaan asli Indonesia atau pra-hindu semata-mata,
seperti beberapa daerah dan suku di (Papua), pusat Kalimantan dan pusat
Sulawesi dan malahan Sumatra. Ada daerah yang memperlihatkan kebudayaan
gabungan seperti pulau Bali. Dikota besar seperti Jakarta ada ketiga gabungan
kebudayaan itu dengan budaya modern.
Dalam menghadapi penjelmaan keempat lapis kebudayaan yang
bermacam-macam pola nilai-nilainya, kita menghadapi pemilihan yang sangat
beranekaragam. Telah jelas bahwa di sisi itu kita hadapi pula bermacam bahaya baik dari kebudayaan tradisi maupun
dari kebudayaan modern. Kita tidak dapat kembali kepada kebudayaan ekspresif
yang terutama sekali dikuasai oleh nilai agama dan nilai seni serta menerima
kemiskinan dan kemelaratan rakyat yang berjuta-juta. Bagaimanapun tingginya
kita menjunjung orang seperti ghandi, kita tidak bisa menjunjung negara kita
bersahaja ke dalam tingkat ekonomi, seperti yang dilakukan oleh dapa waktu hidupnya.
2.2 Masyarakat Nusantara : Bentukan ke
Pelbagai Penjuru
Masyarakat nusantara adalah bentukan masyarakat atau hasil
pembentukan melalui proses waktu panjang yang telah ditempuh oleh kelompok
masyarakat menurut jenis dan intensitas pengaruh berlainan. Oleh pengaruh terus
menrus setelah berimigrasi dimasa silam dan tinggal ditempat tertentu, hal itu
telah menyebabkan tumbuh kembang daya kemampuan adaftasi yang relative cermat
dan tinggi guna memilih unsur budaya luar yang berfaedah bagi bentukan diri
masyarakat tersebut dalam menghadapi lingkungan serta perubahan-perubahannya.Masyarakat
indonesia adalah salah satu kelomok besar serta juga masyarakat malaysia yang
tumbuh dari asal masyarakat nusantara (garna 1996).
Memang
masyarakat nusantara tidaklah menaifkan bahwa bahwa berbagai pengaruh budaya
luar dan agama-agama global telah memberikan manfaat bagi pembentukan kehidupan
mereka. Namun, mereka juga sadar akan peluang dan didorong oleh pertimbangan manusiawi
untuk melakukan seleksi dari pengaruh itu terhadap unsur manakah yang diambil.
Pada awal proses pengaruh luar itu masih boleh terjadi seleksi atas dasar
pertimbangan fungsi dan emosi penerima, tetapi pada masa kemudiannya kurang
terjadi peluang melakukan pertimbangan karena pengaruh datang secara
berterusan.
Masyarakat
indonesia dalam proses kehidupan saat ini harus dipahami adalah menempuh gerak
tradisi akomodasi modernisasi. Tradisi masyarakat juga mengenal pembagian kerja
sebagai cara mendayagunakan potensi dalam memenuhi keperluan hidup mereka,
malahan sesuai dengan potensi dan ruang gerak hidupnya. Dasar kemampuan teknologi
berkaitan dengan pola piker menggerakan kehendak melalui perbuatan dan
tindakan, termasuk mencurahkan rasa kagum akan jagat raya ini melalui
hasil-hasil kesenian. Karena itu gambaran nenek moyang yang telah berjasa akan
keberadaan mereka dihormati dan dikagumi melalui hasil seni tersebut, totalitas
curahan itu memerlukan pengintegrasian system nilai-nilai tradisi mereka
(Garna, 1996). Dengan demikian, nilai dari tradisional merupakan tatanan social
yang berwujud mapan sebagai bentuk relasi antara unsur-unsur kehidupan yang
menjadi aturan sosial itu, bahwasannya aturan harus bersifat normative (hukum).
Perubahan adalah penambahan kapasitas adaftasi bukan menghancurkan nilai-nilai
lama, tetapi memakai nilai-nilai tradisi sebagai acuan untuk menyusun tatanan
kehidupan yang baru.[4]
2.3 Manusia Indonesia: Individu,
Keluarga, dan Masyarakat
Manusia
Indonesia telah menerima pancasila sebagai ideologi, karena ideologi ini
diterima bukan saja di dalam individu dan keluarga, tetapi masyarakatnya secara
luas. Ideologi yang bersumberkan pandangan hidup merupakan kristalisasi
nilai-nilai yang diterima dan dijadikan pedoman, kemudian barulah masyarakat
dan negara. Ideologi berperan sebagai motivasi (penggerak dan pendorong),
pedoman dan pengontrol individu, keluarga da masyarakat secara luas.
Manusia
meliputi individu, keluarga dan masyarakat dalam arti luas, yaitu berkaitan
dengan alam serta lingkungan. Individu tanpa masyarakat tidak berarti sama
sekali, masyarakat tanpa individu adalah inti dari keluarga dan keluarga adalah
inti daripada masyarakat. Masyarakat tanpa keluarga tidak akan berarti,
sedangkan keluarga tanpa individu juga tidak menjadi berarti. Manusia adalah
makhluk yang hidup dalam masyarakat manusia.
Sejak
dilahirkan sampai dengan kematian, manusia tidak pernah hidup sendirian tetapi
selalu berada dalam suatu lingkungan sosial yang berbeda-beda satu dengan yang
lain. Ia tidak akan menjadi berarti tanpa adanya hubungan dengan
manusia-manusia lain dengan dirinya sebagai manusia. Maka dari itu, ketiganya
saling membutuhkan, saling berhubungan, dan saling berkepentingan agar menjadi
berarti.
Individu
diartikan sebagai “seorang manusia”, sebagai perbandingannya dengan banyak
manusia atau seseorang. Individu merupakan unit
terkecil pembentuk masyarakat. Pengertian ini akan tampak jelas bila dikatakan seorang manusia itu
selalu melakukan serba hubungan dengan manusia-manusia lainnya yang disebut
“kelompok” masyarakat (sempit atau luas) dalam memenuhi kebutuhan yang sesuai,
baik kebutuhan biologis maupun kebutuhan ekonomis dalam hidup dan kehidupannya.
Sedangkan
pengertian keluarga dalam Ensiklopedia Umum yang diterbitkan Kanisius, halaman
644-645, diartikan sebagai berikut:
“ Keluarga adalah kelompok orang yang ada hubungan darah atau
perkawinan. Orang-orang termasuk keluarga adalah ibu, bapak, dan anak-anaknya.
Sekelompok manusia (ibu, bapak, dan anak-anaknya) disebut keluarga nuklear (nucler
family) atau keluarga inti”.
Keluarga luas
adalah mencakup semua orang yang berketurunan daripada kakek dan nenek yang
sama, termasuk keturunan masing-masing istri dan suami. Keluarga orientasi
adalah keluarga dimana individu itu merupakan salah satu keturunan. Dalam arti
kiasan “simbol”, istilah keluarga juga digunakan untuk segolongan orang yang
hidup bersama atau segolongan orang yang hidup dalam suatu rumah yang besar
(rumah keluarga), kekerabatan (A.W. Widjaja, 1986).
Jadi, keluarga
batih (nucler family) adalah keluarga inti dimana kelompok kekerabatan
terdiri atas ayah, ibu, dan anak-anak yang belum memisahkan diri sebagai
keluarga batih atau keluarga inti tersendiri. Sedangkan keluarga luas (extended
family) adalah kelompok kekerabatan yang terdiri atas tiga atau empat
keluarga batih (inti) yang terikat oleh hubungan orang tua anak atau saudara
kandung dan oleh satu tempat tinggal bersama yang besar.
Parsudi
Suparian (dalam A. W. Widjaja, 1986) berpendapat bahwa para ahli antropologi
melihat keluarga sebagai suatu sosial terkecil yang dipunyai oleh manusia
sebagai makhluk sosialpendapat ini didasarkan pada kenyataan bahwa sebuah
keluarga adalah satu kesatuan kekerabatan yang juga merupakan satu tempat
tinggal yang ditandai oleh adanya kerjasama ekonomi dan berfungsi untuk
melahirkan keturunan, mensosialisasi atau mendidik anak dan menolong serta
melindungi yang lemah.
Masyarakat adalah
istilah yang paling lazim dipakai untuk menyebut kesatuan-kesatuan hidup
manusia, baik dalam tulisan ilmiah maupun dalam bahasa sehari-hari, adalah masyarakat. Masyarakat juga dapat
diartikan sebagai sekumpulan manusia yang saling “bergaul”, atau dengan istilah
ilmiah yaitu saling “berinteraksi”.[5]
Peter L Berger, seorang
ahlisosiologi memberikan definisi masyarakat sebagai beriktu :“ masyarakat
merupakan suatu keseluruhan komplkes hubungan manusia yang luas sifatnya.”. Koentjaraningrat
dalam tulisannya menyatakan bahwa masyarakat adalah sekumpulan manusia atau
kesatuan hidup manusiayang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat
tertentu yang bersifat kontinyu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas
bersama.[6]
Lebih lanjut,
masyarakat adalah pergaulan hidup manusia (sehimpunan orang yang hidup bersama
dalam suatu tempat dalam ikatan-ikatan aliran tertentu) atau sekelompok orang
yang mempunyai identitas sendiri yang membedakan dengan kelompok lain dan hidup
diam dalam wilayah atau daerah tertentu secara tersendiri (A. W. Widjaja,
1986). Kelompok ini, baik sempit maupun luas mempunyai perasaan adanya
persatuan diantara anggota kelompok dan menganggap dirinya berbeda dengan
kelompok lain. Mereka memiliki norma-norma, ketentuan-ketentuan dan
peraturan-peraturan yang dipatuhi bersama sebagai suatu ikatan. Perangkat dan
pranata tersebut dijadikan pedoman untuk memenuhi kebutuhan kelompokdalam arti
yang seluas-luasnya.
Dalam perkembangan dan
pertumbuhannya masyarakat dapata digolongkan menjadi :
- Masyarakat
sederhana,
Dalam lingkungan masyarakat sederhana (primitive) pola pembagian kerja
cenderung dibedakan menurut jenis kelamin yang Nampak berpangkal tolak
dari latar belakang adanya kelemahan dan kemampuan fisik antara seorang
wanita dan pria dalam menghadapi tantangan-tantangan alam yang buas saat
itu.
- Masyarakat
Maju,
Masyarakat maju memiliki aneka ragam kelompok sosial, atau lebih dikenal
dengan sebuatan kelompok organisasi kemasyarakatan yang tumbuh dan
berkembang berdasarkan kebutuhan serta tujuan tertentu yang akan dicapai.[7]
Manusia tak
mungkin bergaul (bermasyarakat) dengan manusia lain jika sekiranya ia tak tahu
bahwa manusia-manusia lain itu sesamanya. Manusia tak mungkin membedakan diri
dengan yang bukan manusia, jika ia tak memiliki daya tahu, jika tidak menyadari
kebutuhannya sendiri serta kemungkinan-kemungkinan yang ada pada dirinya sendiri
dan pada alam yang dihuni. Jika manusia tak memiliki daya tahu, ia pun tak tahu
apa-apa. Jadi, memang sewajarnyalah jika makhluk yang mempunyai daya tahu ini
dijuluki homo sapiens atau animal rationale: makhluk yang
memiliki ratio= makhluk yang berbudi.
Selain daya
tahu, manusia juga memiliki daya capai yaitu untuk meraih apa yang
diketahuinya. Daya capai yang ditentukan sendiri mengakibatkan ia dapat memilih
sehingga harus diakui bahwa ia mempunyai daya pilih untuk menentukan suatu
tindakan. Daya pilih yang demikian itu disebut kehendak atau kemauan. Dengan
demikian, manusia memiliki daya tahu dan daya mau maka itulah kodrat manusia.
Kodrat ini (kemanusiaan) yang mengakibatkan bahwa sodalitas bukan demi
naluri belaka, melainkan ia tahu dengan
siapa ia bergaul dan gotong royong, serta menentukan tindakan-tindakannya
bersosialisasi.
Manusia dengan
daya tahunya dan daya maunya juga hendak menyelami dan mengerti realitas. Jika
menelami realitas itu sampai keakar-akarnya sehingga dapat disebut radikal,
maka itu disebut filsafat. Jika kegunaannya yang dipentingkan, maka itu disebut
teknologi. Jika keindahan yang diutamakan, maka itu disebut seni. Jika manusia
hendak memberi aturan dan tata usaha kepada masyarakatnya, maka itu disebut
politik, hukum dan ekonomi. Jadi, pernyataan tersebut merupakan cabang
kebudayaan.[8]
Secara umum,
kebudayaan dapat dirumuskan sebagai usaha dan hasil manusia demi tahu dan
maunya (kodrat kemanusiaannya yang mengakibatkan sosialistasnya) untuk mengubah
atau mengatasi alam supaya dapat digunakan untuk mencapai tujuan yang
ditentukan sendiri (A. W. Widjaja, 1986).
a.
Manusia Indonesia dalam Sosio-Budaya
1.
Kebudayaan
bangsa Indonesia hendaklah berdasarkan berdasarkan pada kodrat manusia, yaitu
yang berperikemanusiaan.
2.
Kebudayaan
Indonesia hendaknya mengandung keadilan, yaitu tahu akan hak orang lain dan mau
memperlakukan orang lain itu menurut haknya. Kebudayaan yang bersifat demikian
mengandung kemanusiaan yang adil dan beradab.
3.
Kebudayaan
Indonesia hendaknya melingkup semua manusia Indonesia karena manusia-manusia
itu adalah warga masyarakat/ negara Indonesia.
4.
Oleh
karena manusia di manapun juga berkodrat sama, maka janganlah manusia dalam
bidang sosio-budayanya mengurung diri rapat-rapat sehingga tidak mau tahu
terhadap kebudayaan lain, itu akan mengurangi peri kemanusiaannya sendiri.
b.
Manusia Indonesia dalam Politik
Manusia
yang teratur adalah politik. Menurut kodrat manusia dalam praktik, politik
diilmukan (terdapat ilmu politik) dan ilmu itu diterapkan pada tindakan manusia
bermasyarakat dan negara. Dalam tinjauan ini yang diutamakan adalah
perilakunya, walaupun sukar mangabaikan sama sekali teorinya. Politik yaitu
perilaku manusia (akibat tahunya) yang erat hubungannya dengan urusan
pengelolaan masyarakat atau negara demi tercapainya tujuan masyarakat.
Manusia
Indonesia dan di dalam politik adalah sebagai berikut:
1.
Negara
untuk semua manusia yang merupakan warganya, tidak untuk suatu golongan atau
partai.
2.
Semua
warga negara pada prinsipnya tidak hanya berkewajiban mengelola negara dalam situasinya
masing-masing, tetapi juga berhak menyumbangkan pikiran dan tenaga dalam
pengelolaan negara itu. Hak dan kewajiaban ini bagi semua warga negara sama
(hak-hak asasi).
3.
Kelompok
warga negara, yang kerap kali disebut pemerintah, hendaklah jangan memerintah
saja. Mereka berkewajiban mengurus negara dengan cara yang khas, bukan karena
mereka mempunyai kekuasaan fisik, melainkan wewenang dari rakyat untuk rakyat
(demokrasi).
c.
Manusia Indonesia dalam Hukum
Ada
teori-teori tentang hukum (ilmu hukum), yaitu berdasarkan filsafat tentang
perikemanusiaan sebab warga negaranya adalah manusia.
Manusia Indonesia dan di dalam hukum adalah sebagai berikut:
1.
Setiap
orang berhak atas pengakuan sebagai manusia pribadi terhadap hukum. Setiap
orang adalah sama terhadap hukum karena manusia semua berkodrat sma.
2.
Semua
dan tiap-tiap warga negara harus taat dan memetuhi hukum.
3.
Dalam
masyarakat mamang harus ada pemberi hukum, tetapi hendaklah selalu ingat, bahwa
hukum itu bukan alat pengekang, melainkan bertujuan untuk melindungi rakyat,
hukum hendaklah merupakan pengayoman warga negara, terutama warga yang lemah.
d.
Manusia Indonesia dalam Ekonomi
Teori
ekonomi berobjekan usaha manusia untuk mencapai tujuan bermasyarakat. Dalam
bidang ekonomi, manusia yang bermasyarakat tahu akan tujuannya serta ingin
mencapai dengan mempergunakan sarana-sarana yang ada.
Manusia Indonesia dalam ekonomi dapat diuraikan sebagai berikut:
1.
Perekonomian
hendaknya disusun sedemikian rupa sehingga nyata merupakan usaha bersama dari
rakyatdan bangsa Indonesia.
2.
Kesejahteraan
bersama ini tidak berarti harus sebagai jumlah kesejahteraan individu, sehingga
terdapat kesungguhan “sama rasa dan sama rata” secara material.
3.
Kesejahteraan
umum tidak berarti bahwa tidak mungkin adanya perusahaan negara. Yang demikian itu,
janganlah mengurangi pemerataan perusahaan dan fasilitas-fasilitas mewah bagi
orang-orang istimewa saja.
4.
Hendaknya
ada pengawasan dan aturan efektif bagi kekayaan negara, entah itu berupa
kekayaan alam maupun yang sudah menjadi uang.
Jadi, manusia
Indonesia dan di dalam sosio-budaya, politik, hukum, dan ekonomi berkisar pada
manusia dengan kodratnya; manusia yang berbudi dan berkehendak. Demi tahu
maunya itu, manusia bersosialisasi sehingga kemasyarakatan manusia bukanlah
semata-mata timbul dari naluri semata. Manusia mengetahui kenapa ia
bermasyarakat dan untuk apa ia bermasyarakat, dan dengan demikian ia mampu
mengutarakan cita-citanya; kebudayaan yang merupakan sosio-budaya serta pada
masyarakat yang demikian harus berlandaskan keadilan dan keadaban.
2.4 Nilai Sosial Budaya Indonesia
Nilai adalah gabungan semua unsur kebudayaan yang dianggap baik
atau buruk dalam suatu masyarakat. Dilihat dari segi waktu menurut Clyade
Kluckhohn, nilai agak abadi yaitu nilai merupakan suatu standar yang mengatur
serta mengelola sejumlah sistem kelakuan. Preferensi nilai terletak pada
hal-hal yang lebih disukai dan dianggap terbaik dengan relasi sosial yang harus
dilakukan seseorang termasuk ikhtiar untuk mencapainya (Garna, 1996).
Masyarakat dapat dilihat sebagai suatu organisasi sosial yang
kompleks yang terdiri atas nilai-nilai dan norma-norma, pranata-pranata dan
aturan-aturan untuk mewujudkan tindak laku, yang bersama-sama dimiliki oleh
para warga masyarakat yang bersangkutan. Sedangkan yang dimaksudkan dengan
disorganisasi sosial adalah adanya kenyataan bahwa tidak setiap warga
masyarakat mengetahui dan menyetujui seluruh norma-norma ideal (yang dianggap
baik menurut ukuran kebudayaan yang berlaku) dalam mewujudkan tingkah laku,
sehingga masyarakat sebagai suatu organisasi sosial yang berada pada suatu
kondisi yang memperlihatkan adanya disorganisasi sosial.
Faktor-faktor
yang berpengaruh terhadap unsur-unsur perubahan nilai dapat bersumber pada
aspek-aspek lain di bidang sosial budaya, termasuk nilai-nilai dan sistem nilai
di luar pancasila dan undang-undang dasar 1945 serta sebagai hasil dari proses
perubahan sosial dan hasil proses pembangunan. Nilai budaya bangsa bisa
dianggap statis atau dinamis, yang tergantung pada pandangan dan sikap bangsa
itu sendiri. Beberapa nilai budaya yang cenderung mempengaruhi tingkat sosial
budaya bangsa, disebabkan hal-hal sebagai berikut.
a.
Budaya
yang santai sebagai akibat pengaruh alam dan lingkungan tidak mendorong
terwujudnya etos kerja yang menghargaiwaktu, ketelitian, ketekunan, kesabaran
dalam usaha, dan ketabahan dalam mengalami kesulitan.
b.
Daya
serap dan presepsi warga masyarakat terhadap budaya asing yang tingkat
kemajuannya menunjukkan dorongan bagi masyarakat.
c.
Kecenderungan
tetap mempertahankan nilai budaya feodal.
d.
Nilai
budaya yang meninggikan orag lain atas dasar senioritas belaka atau pangkat.
Sikap ini bertentangan dengan nilai keterbukaan dan kebenaran yang objektif.
Beberapa nilai budaya yang dinamis yang bersifat dinamik dan
cenderung mempengaruhi tingkat sosial budaya, antara lain sebagai berikut:
a. Bidang
agama
Sikap dan tingkah laku
para penyelenggara negara dalam menghadapi kecenderungan aliran kepercayaan
kepada Tuhan Yang Maha Esa di satu pihak dan umat beragama di lain pihak dapat
mempengaruhi tingkat ketahanan bangsa.
b. Bidang
pendidikan
Pendidikan merupakan
suatu tantangan bagi pemerintah untuk mengembangkan suatu sistem pendidikan
beserta sarana dan prasarana, serta perlu adanya peningkatan kualitas terhadap
pendidikan merupakan masalah yang mendesak yang harus diselesaikan.
c. Bidang
komunikasi sosial
Dalam era masyarakat
informasi terdapat kecenderungan semakin sukarnya menghindarkan pengaruh
kebudayaan asing di tanah air, sehingga memerlukan perhatian khusus terhadap
pelestarian budaya nasional, sesuai kepribadian bangsa.
d. Bidang
ilmu pengetahuan, teknilogi dan penelitian
Tantangan cenderung
pada kemampuan pemilihan, penguasaan, dan pemanfaatan teknologi yang datang
dari luar negeri.
e. Bidang
kesehatan
Meningkatnya
kesadaran masyarakat membawa akibat tuntutan masyarakat akan peningkatan
kualitas pelayanan kesehatan. Meningkatnya penyakit degeneratif dan meningkatnya
harapan hidup membawa akibat biaya kesehatan tinggi, yang akan cenderung
menjadi masalah sosial.
f. Bidang
kependudukanan
Masalah pemerataan dan
penyebaran penduduk masih terus diusahakan mengingat sentra-sentra pembangunan
yang mampu menyerap tenaga kerjaterbatas dikawasan tertentu.
g. Perumahan
dan pemukiman
Pembangunan perumahan
dan pemukiman yang merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia cenderung
semakin bisa terkendali, walaupun masalah pertanahan masih akan menjadi masalah
pokok.
h. Kesejahteraan
sosial
Tingkat kesejahteraan
masyarakat yang belummerata akan merupakan salah satu faktor yang cenderung
menimbulkan kerawanan sosial.
i.
Generasi muda
Apabila pembinaan
generasi muda tidak dilakukan secara intensif, maka akan cenderung menimbulkan
masalah baru yang beraneka ragam, termasuk kesempatan kerja dan kesempatan
mengikuti pendidikan, baik formal maupun nonformal.
j.
Peranan wanita
dalam pembangunan bangsa
Peranan wanita dalam pembangunan
bangsa cenderung semakin meningkat baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
Berbagai upaya
pendekatan terhadap kecenderungan sosial budaya perlu dibarengi dengan berbagai
usaha untuk lebih mendorong tercapainya tingkat kesejahteraan secara merata
serta terjaminnya stabilitas nasional yang mantap di dalam menunjang pembangunan
nasional.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
1. Perkembangan
kebudayaan Indonesia
Kebudayan
Indonesia bukanlah sesuatu yang padu dan bulat, tetapi adalah sesuatu yang
terjadi dari berbagai – bagai unsur suku bangsa.
Mengutip
dari St. Takdir Alisjahbana ( 1982 : 7 ) bahwa unsure sejarah yang menentukan
perkembangan kebudayaan Indonesia yang terbagi dalam lima lapis anatara lain :
·
Kebudayaan Indonesia Asli
·
Kebudayaan India
·
Kebudayaan Islam
·
Kebudayaan Modern
·
Kebudayaan Bhineka Tunggal Ika
2. Masyarakat
Nusantara : Bentukan Kepelbagaian Penjuru
Masyarakat
Nusantara adalah bentukan masyarakat atau hasil pembentukan melalui proses
waktu panjang yang telah ditempuh oleh semua kelompok masyarakat menurut jenis
dan intensitas pengaruh berlainan.
3. Manusia
Indonesia: Individu, Keluarga dan Masyarakat
·
Manusia
Indonesia telah menerima pancasila sebagai ideology yang diterima bukan saja di
dalam individu dan keluarga, tetapi masyarakatnya secara luas.
·
Keluarga
adalah kelompok orang yang ada hubungan darah atau perkawinan. Keluarga terdiri
dari ibu, bapak, dan anak-anaknya serta disebut keluarga nuklear (nucler
family) atau keluarga inti”. Keluarga terbagi atas beberapa pengertian:
a.
Keluarga
luas adalah mencakup semua orang yang berketurunan daripada kakek dan nenek
yang sama, termasuk keturunan masing-masing istri dan suami.
b.
Keluarga
batih (nucler family) adalah keluarga inti dimana kelompok kekerabatan
terdiri atas ayah, ibu, dan anak-anak yang belum memisahkan diri sebagai
keluarga batih atau keluarga inti tersendiri.
·
Masyarakat adalah sekumpulan manusia atau kesatuan
hidup manusiayang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang
bersifat kontinyu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama . (Koentjaraningrat)
·
Manusia
Indonesia dan di dalam sosio-budaya, politik, hukum, dan ekonomi berkisar pada
manusia dengan kodratnya; manusia yang berbudi dan berkehendak.
4. Nilai Sosial
Budaya Indonesia
·
Nilai
budaya yang cenderung mempengaruhi tingkat sosial budaya bangsa, disebabkan
hal-hal yaitu: budaya yang santai sebagai akibat pengaruh alam dan lingkungan,
daya serap dan presepsi warga masyarakat terhadap budaya asing, kecenderungan
tetap mempertahankan nilai budaya feodal, nilai budaya yang meninggikan orang
lain atas dasar senioritas belaka atau pangkat.
·
Nilai
budaya yang dinamis yang bersifat dinamik dan cenderung mempengaruhi tingkat
sosial budaya terdiri dari berbagai bidang antara lain: Bidang
agama, pendidikan, komunikasi sosial, ilmu pengetahuan, teknilogi dan penelitian,
kesehatan, kependudukanan, perumahan dan pemukiman, kesejahteraan sosial, generasi
muda, peranan wanita dalam pembangunan bangsa.
3.2
Saran
Demikian yang
dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah
ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya. Kritik dan saran yang
membangun dari pembaca sangat diharapkan oleh penulis demi sempurnanya makalah
ini. Semoga makalah ini berguna bagi penulis khususnya juga para pembaca pada
umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Koentjaraningrat.
1983. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.
Ranjabar, Jakobus, 2013. Sistem Sosial Budaya Indonesia. Bandung:
Alfabeta
http://www.belajarpraktis.com/2013/04/18/kebudayaan-india-di-indonesia.html
[1]Jakobus
Ranjabar, Sistem Sosial Budaya Indonesia. (Bandung: Alfabeta) Hlm 83
[2] terdapat di
http://www.belajarpraktis.com/2013/04/18/kebudayaan-india-di-indonesia.html
[3]terdapat di
http://novitasari-afridiana.blogspot.com/2013/04/pengertian-bhineka-tunggal-ika.html
[4]Ibid 107
[5] Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru, 1983, hlm 145.
[8] Ibid 112
