IAD
PERKEMBANGAN ILMU ASTRONOMI, KETATASURYAAN
DAN ILMU OPTIK DALAM FISIKA DITINJAU DARI
PERSPEKTIF ISLAM DAN ILMU ALAMIAH MODERN
MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Ilmu Alamiah Dasar
Dosen: Haris Budiman
![]() |
Disusun Oleh:
KELOMPOK 7/AN/F
RISNA MULIYANTI 1138010219
RISQI ALAMSYAH 11380102
RENI MANDALA P 11380102
SANI SUSANTI 11380102
SITI HANIFAH 11380102
ADMINISTRASI NEGARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN
ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM
NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2013
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penyusun
panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberi rahmat dan karunianya,
sehingga penyusun dapat menyelesaikan karya tulis ini yang berjudul “Perkembangan
Ilmu Astronomi, Ketatasuryaan dan Ilmu Optik dalam Fisika Ditinjau dari
Perspektif Islam dan Ilmu Alamiah Modern” tepat pada waktunya. Penyusun juga
menyadari sepenuhnya bahwa penulisan makalah ini banyak kekurangannya dan jauh
dari kesempurnaan, baik dari segi penyusunan ataupun pembahasan, yang
disebabkan oleh keterbatasan waktu, sumber dan pengetahuan penyusun. Maka dari
itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun, sangat penyusun harapkan demi
perbaikan penyusunan makalah selanjutnya.
Akhirnya penyusun berharap agar hasil laporan ini senantiasa
memberikan manfaat serta ilmu pengetahuan yang berguna khususnya bagi penyusun
umumnya bagi semua pembaca. Demikian makalah ini penulis buat,
penulis ucapkan terima kasih.
Bandung,
Oktober 2013
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ......................................................................... i
Daftar isi ....................................................................................... ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang ............................................................... 1
1.2
Rumusan masalah .............................................................. 1
1.3
Tujuan dan manfaat ......................................................... 1
BAB 2 ISI
2.1
Pengertian Astronomi, ketatasuryaan
dan Optik ............. 2
2.2
Sejarah Astronomi, ketatasuryaan
dan Optik ................... 2
2.3
Macam-macam Astronomi dan Optik ............................. 8
2.4
Fenomena yang pernah terjadi ....................................... 8
BAB 3 PEMBAHASAN
3.1
Hipotesis Tata surya ......................................................... 10
3.2
Macam-macam Astronomi dan Optik ............................. 12
3.3
Fenomena yang pernah terjadi ....................................... 23
BAB 4 PENUTUP
4.1
Kesimpulan ....................................................................... 44
4.2
Saran ................................................................................. 44
DAFAR PUSTAKA ................................................................... 45
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna.
Manusia dibekali Tuhan akal untuk berfikir dan rasa ingin tahu sebagai dasar
dan motivasi untuk menjalankan fungsi akal secara maksimal. Seiring dengan
pertambahnya waktu, kesadaran manusia tentang kebutuhanya terhadap ilmu pengetahuan semakin kuat. Mereka mencoba menafsirkan dan membuktikan kebenaran
apa yang mereka lihat sehingga menghasilkan apa yang disebut teori. Pada masa
selanjutnya teori-teori ini dikodifikasi dan kembangkan oleh orang-orang selanjutnya sampai pada masa tidak bergunanya pikiran
manusia (kiamat).
1.2
Rumusan Masalah
1.
Apa
pengertian Astronomi, Ketatasuryaan dan Optik?
2.
Bagaimana
sejarah Astronomi, Ketatasuryaan dan Optik?
3.
Apa
saja Macam-macam astronomi dan optik?
4.
Fenomena
apa saja yang pernah terjadi dari astronomi, Ketatasuryaan dan Optik?
1.3
Tujuan dan Manfaat
1.
Untuk
mengetahui pengertian Astronomi, Ketatasuryaan dan Optik.
2.
Untuk
megetahui Bagaimana sejarah Astronomi, Ketatasuryaan dan Optik.
3.
Untuk
mengetahui Macam-macam astronomi dan optik.
4.
Untuk
mengetahui Fenomena yang pernah terjadi dari astronomi, Ketatasuryaan dan
Optik.
BAB II
ISI
PERKEMBANGAN
ILMU ASTRONOMI, KETATASURYAAN
DAN ILMU
OPTIK DALAM FISIKA DITINJAU DARI
PERSPEKTIF
ISLAM DAN ILMU ALAMIAH MODERN
2.1 Pengertian
1. Astronomi
Kata
astronomi awalnya berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu astron yang berarti
bintang dan nomos yang berarti hukum atau budaya. Maka apabila digabungkan
astron-nomos adalah hukum atau budaya bintang-bintang. Astronomi adalah ilmu tentang
perbintangan, ilmu ini mempelajari asal-usul, evolusi, sifat fisik dan kimiawi
benda-benda yang bisa dilihat dari langit dan diluar bumi, juga sistem
ketatasuryaan yang berlaku sejak alam semesta ini diciptakan.
2. Ketatasuryaan
§
Tata surya (bahasa inggris) adalah kumpulan benda langit yang terdiri atas
sebuah bintang yang disebut matahari dan semua objek yang mengelilinga.
§
Tata
surya adalah kumpulan benda-benda angkasa yang terdiri atas matahari, planet,
asteroid, komet dan meteor.
§
Tata surya merupakan suatu sistem yang
terbentuk dari matahari dan planet-planet yang mengelilinginya.
3. Optik
Optik adalah cabang fisika yang menggambarkan perilaku dan sifat cahaya dan
interaksi cahaya dengan materi. Optika
menerangkan dan diwarnai oleh gejala optis. Kata optik berasal dari bahasa
latin yang berarti “tampilan”.
2.2 Sejarah
1) Astronomi
Penemuan dan pelajaran sejumlah bintang diakui menjadi
suatu sumbangan orang islam yang berharga dan tak dapat dilupakan. Orang Arab
Badui sebelum islam telah mengembangkan observasi-observasi perbintangan yang
sangat tepat, tidak hanya untuk perjalanan malam hari mereka ke gurun pasir,
tapi juga untuk ilmu cuaca dan sebagainya. Observasium telah timbul dimana-mana
dibawah khalifah Al-Makmum, lingkaran bumi telah diukur dengan ketepatan hasil
yang mengagumkan. Sejumlah buku bernama kitab Al-Anwa, memberi bukti yang cukup
tentang keluasan ilmu pengetahuan arab. Kemudian sankskrit, greek, dan
karya-karya lain. Karya-karyanya telah dikumpulkan paling dahulu adalah yang
berhubungan dengan air surut, air pasang, fajar, senjakala pelangi, lingkaran
cahaya di sekeliling matahari atau bulan, diatas semuanya matahari dan bulan
pergerakan-pergerakan mereka.
Setelah Islamisasi dilakukan hampir di
seluruh jazirah Arab, ada beberapa bukti bahwa orang-orang Islam sudah mulai
mempelajari ilmu perbintangan yang diadopsi dari India dan Yunani kuno. Ilmuwan
Islam pertama yang mempelajari astronomi secara tuntas adalah Muhammad bin Musa
al-Khawarizmi (830 M). Dia telah merevisi dan menyempurnakan Geografi
Ptolemeus, terdiri dari daftar 2402 koordinat dari kota-kota dan tempat
geografis lainnya mengikuti perkembangan umum.
Buku yang berjudul "Buku Pendekatan Tentang Dunia, dengan Kota-Kota, Gunung, Laut, Semua Pulau dan Sungai" ini memuat tentang bujur dan lintang, termasuk zona cuaca, pengaruh lintang dan bujur terhadap cuaca dan banyak lagi.
Buku yang berjudul "Buku Pendekatan Tentang Dunia, dengan Kota-Kota, Gunung, Laut, Semua Pulau dan Sungai" ini memuat tentang bujur dan lintang, termasuk zona cuaca, pengaruh lintang dan bujur terhadap cuaca dan banyak lagi.
Selain itu, Musa al-Khawarizmi juga pernah
menulis tentang 37 simbol pada kalkulasi kalender astronomi dan 116 tabel
dengan kalenderial, astronomial dan data astrologial yang sampai sekarang masih
digunakan oleh seluruh astronomi dunia.Ada juga Abu Rayhan al-Biruni (973 M)
dari Khwarazm, Armenia yang pada usia 17 tahun, dia telah mendesain alat
observasi perbintangan dan matahari. Nasiruddin at-Tusi juga merupakan ilmuwan Islam
yang berhasil memodifikasi model semesta episiklus Ptolomeus dengan prinsip-prinsip
mekanika untuk menjaga keseragaman rotasi benda-benda langit.Bahkan seorang
Copernicus dan Galileo juga terinspirasi oleh teori Ibn Al-Syatir (Kitab
Nihayat al-Su'al fi Tashih al-'Usul) tentang bumi mengelilingi matahari dan
peredaran planet serta bulan.Tidak hanya mereka saja, masih banyak tokoh-tokoh
Islam yang berjasa dalam perkembangan dunia astronomi, seperti Al-Battani
(858-929 M), Al-Sufi (903-986 M), Al-Biruni (973-1050 M), Ibnu Yunus (1009 M),
Al-Zarqali (1029-1087 M) dan masih banyak lagi.Tentunya dengan adanya tulisan,
naskah, peralatan dan sejenisnya yang terkait dengan dunia perbintangan, dapat
dijadikan bukti bahwa tokoh-tokoh Islam tidak kalah dengan bangsa-bangsa di
luar Islam yang juga berhasil menjadi penemu sesuatu yang digunakan sampai
sekarang ini.
Menurut wikipedia, ilmu astronomi modern
makin berkembang setelah pada tahun 1928,
atas jasa Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang penguasa perkebunan teh
didaerah malabar, memasang beberapa teleskop besar di Lembang Jawa Barat, yang menjadi
cikal bakal Observatorium Bosscha, sebagaimana dikenal pada masa kini.
Penelitian astronomi yang dilakukan pada masa kolonial diarahkan pada
pengamatan bintang ganda visual survei langit dibelahan selatan ekuator bumi
karena pada masa tersebut belum banyak observatorium untuk mengamati daerah
selatan ekuator. Pada tahun 1959 secara resmi dibuka pendidikan astronomi di
Institut Teknologi Bandung.
2) Ketatasuryaan
Sebuah teori dari keingintahuan akan suatu kejadian.
Selain itu tidak mudah unutk mempercayai sebuah teori apalagi teori itu lahir
ditengah kondisi masyarakat yang mempunyai kepercayaan berbeda. Hal utama yang
harus mereka pahami tentang tata surya
adalah bagaimna tata sury itu terbentuk, bagamana objek didalamnya begerak dan
berinteraksi serta gaya dan bekerja mengatur semua geraka tersebut. Jauh
sebelum masehi telah dilakukan beberapa penelitian tentang tatasurya.
Perkembangan
teori pembentukan tata surya dibagi 2 kelompok yakni masa sebelum Newton Dan
sesudah Newton.
·
Ptolemy dan Teori Geosentrik
Ptolemy (c 150AD) menyatakan bahwa semua objek
bergerak relatif terhadap bumi. Teori ini terpercaya selama hampir 1400 tahun. Tetapi teori geosentrik mempunyai kelemahan,
yaitu matahari dan bulan bergerak dalam jejak lingkaran mengitari bumi,
sementara planet bergerak tidak teratur dalam serangkaian simpul kearah timur.
Untuk mengatasi masalah ini, ptolemy mengajukan 2 komponen gerak. Yang pertama,
gerak dalam orbit lingkaran yang seragam dengan periode satu tahun pada titik
yang disebut deferent. Gerak yang kedua disebut
epycycle, gerak seragam dalam lintasan lingkaran dan berpusat pada
deferent.
·
Teori heliosentrik
Nicolus copernicus (1473-15430) merupakan orang
pertama yang secara terang-terangan menyatakan bahwa Matahari merupakan pusat
Tata Surya, dan Bumi bergerak mengelilingi dalam orbit lingkaran. Unutk masalah
orbit, data yang didapat Copernicus memperlihatkan adanya indikasi penyimpangan
kecepatan sudut orbit planet-planet. Namun ia mempertahankan bentuk orbit
lingkaran dengan menyatakan bahwa orbitnya tidak konsentrik. Teori heliosentrik
disampaikan Copernicus dalam publikasinya yang berjudul De Revolutionibus Orbium Coelestium kepada Paus Pope III dan
diterima oleh gereja.
Al-Qur’an berpendapat sama dengan
teori heliosentrik sebagaimana firman Allah dalam surat Yasin 38-40.
tyJs)ø9$#ur çm»tRö£s%
tAÎ$oYtB
4Ó®Lym
y$tã
Èbqã_óãèø9$%x.
ÉOÏs)ø9$#
ÇÌÒÈ
w
ß§ôJ¤±9$#
ÓÈöt7.^t
!$olm;
br&
x8Íôè?
tyJs)ø9$#
wur
ã@ø©9$#
ß,Î/$y
Í$pk¨]9$#
4 @@ä.ur
Îû
;7n=sù
cqßst7ó¡o
ÇÍÉÈ
39. Dan Telah kami tetapkan bagi bulan
manzilah-manzilah, sehingga (Setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir)
kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua[1267].
40. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan
bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada
garis edarnya.
[1267] Maksudnya: bulan-bulan itu pada Awal bulan,
kecil berbentuk sabit, Kemudian sesudah menempati manzilah-manzilah, dia
menjadi purnama, Kemudian pada manzilah terakhir kelihatan seperti tandan kering
yang melengkung.
3) Optik
Lima planet terdekatkeMatahariselain Bumi (Merkurius, Venus, Mars, Yupiter dan Saturnus) telah dikenal sejak zaman dahulu karena mereka semua
bisa dilihat dengan mata telanjang. Banyak bangsa di dunia ini memiliki nama sendiri untuk masing-masing planet. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pengamatan pada lima abad
lalu membawa manusia untuk memahami benda-benda langit terbebas dari selubung
mitologi. Galileo Galilei (1564-1642) dengan teleskop refraktornya mampu menjadikan mata
manusia "lebih tajam" dalam mengamati benda langit yang tidak bisa
diamati melalui mata telanjang. Karena teleskop Galileo bisa mengamati lebih
tajam, ia bisa melihat berbagai perubahan bentuk penampakan Venus, seperti Venus Sabit atau Venus Purnama sebagai
akibat perubahan posisi Venus terhadap Matahari. Penalaran Venus mengitari
Matahari makin memperkuat teori heliosentris, yaitu bahwa Matahari adalah pusat alam semesta,
bukan Bumi, yang sebelumnya digagas oleh Nicolaus Copernicus (1473-1543).
Susunan heliosentris adalah Matahari dikelilingi oleh Merkurius hingga Saturnus.
Teleskop Galileo terus disempurnakan oleh ilmuwan lain
seperti Christian Huygens (1629-1695) yang menemukan Titan, satelit Saturnus, yang berada hampir 2 kali jarak
orbit Bumi-Yupiter. Perkembangan teleskop juga diimbangi pula dengan
perkembangan perhitungan gerak benda-benda langit dan hubungan satu dengan yang
lain melalui Johannes Kepler (1571-1630) dengan Hukum Kepler. Dan puncaknya, Sir Isaac Newton (1642-1727) dengan hukum gravitasi. Dengan dua teori
perhitungan inilah yang memungkinkan pencarian dan perhitungan benda-benda
langit selanjutnya.Pada 1781, William Herschel (1738-1822) menemukan Uranus. Perhitungan cermat orbit Uranus menyimpulkan bahwa
planet ini ada yang mengganggu. Neptunusditemukan pada Agustus 1846. Penemuan Neptunus ternyata tidak cukup menjelaskan
gangguan orbit Uranus. Pluto kemudian ditemukan pada 1930.Pada saat Pluto ditemukan, ia hanya diketahui sebagai
satu-satunya objek angkasa yang berada setelah Neptunus. Kemudian pada 1978, Charon, satelit yang mengelilingi Pluto ditemukan,
sebelumnya sempat dikira sebagai planet yang sebenarnya karena ukurannya tidak
berbeda jauh dengan Pluto.
Para astronom kemudian menemukan sekitar 1.000 objek
kecil lainnya yang letaknya melampaui Neptunus (disebut objek trans-Neptunus), yang juga
mengelilingi Matahari. Di sana mungkin ada sekitar 100.000 objek serupa yang
dikenal sebagai Objek Sabuk Kuiper (Sabuk Kuiper adalah bagian dari
objek-objek trans-Neptunus). Belasan benda langit termasuk dalam Objek Sabuk
Kuiper di antaranya Quaoar (1.250 km pada Juni 2002), Huya (750 km pada Maret 2000), Sedna(1.800 km pada Maret 2004), Orcus, Vesta, Pallas, Hygiea, Varuna, dan 2003 EL61 (1.500 km pada Mei 2004). Penemuan 2003 EL61 cukup menghebohkan karena Objek Sabuk Kuiper ini
diketahui juga memiliki satelit pada Januari 2005 meskipun berukuran lebih
kecil dari Pluto. Dan puncaknya adalah penemuan UB 313 (2.700 km pada Oktober 2003) yang
diberi nama oleh penemunya Xena. Selain lebih
besar dari Pluto, objek ini juga memiliki satelit.
REPUBLIKA.CO.ID, Secara detail, Al-Haitham
pun menjelaskan sistem penglihatan mulai dari kinerja syaraf di otak hingga
kinerja mata itu sendiri.
Ia juga menjelaskan secara detil bagian dan fungsi mata seperti konjungtiva, iris, kornea, lensa, dan menjelaskan peranan masing-masing terhadap penglihatan manusia. Hasil penelitian Al-Haitham itu lalu dikembangkan Ibnu Firnas di Spanyol dengan membuat kacamata. Dalam buku lainnya yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris berjudul “Light dan On Twilight Phenomena”, Al-Haitham membahas mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta bayang-bayang dan gerhana.
Ia juga menjelaskan secara detil bagian dan fungsi mata seperti konjungtiva, iris, kornea, lensa, dan menjelaskan peranan masing-masing terhadap penglihatan manusia. Hasil penelitian Al-Haitham itu lalu dikembangkan Ibnu Firnas di Spanyol dengan membuat kacamata. Dalam buku lainnya yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris berjudul “Light dan On Twilight Phenomena”, Al-Haitham membahas mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta bayang-bayang dan gerhana.
Menurut Al-Haitham, cahaya fajar bermula
apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk timur. Warna merah pada senja
akan hilang apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk barat. Ia pun
menghasilkan kedudukan cahaya seperti bias cahaya dan pembalikan cahaya. Al-Haitham
juga mencetuskan teori lensa pembesar. Teori itu digunakan para saintis di
Italia untuk menghasilkan kaca pembesar pertama di dunia. Pada abad ke-13 M,
fisikawan Muslim lainnya yang banyak berkontribusi dalam bidang optik adalah
KamaluddinAl-Farisi. Dia mampu menjelaskan fenomena pelangi. Melalui penelitian
yang dilakukannya, ia berhasil mengungkapkan bagaimana cahaya matahari
direfraksi melalui hujan serta terbentuknya pelangi primer dan sekunder. Itulah
peran sarjana Muslim di era kekhalifahan dalam bidang optik.
2.3 Macam-Macam Astronomi Dan Optik
1. Astronomi
A. Astronomi observasional
A. Astronomi Teoretis
2. Optik
2.3Fenomena yang terjadi
A. Astronomi
1. Tanggal 3
Agustus 2013 - Bulan Berada Pada Titik Terjauh (Apogee)
2. Tanggal
6 Agustus 2013 - Bulan Baru
3. Tanggal 12 Agustus 2013 - Merkurius di Aphelion
4. Tanggal 12-13 Agustus 2013 - Puncak Hujan Meteor Perseids
5. Tanggal 19 Agustus 2013-Bulan berada pada titik terdekat (perigee)
6. Tanggal 21 Agustus 2013-Bulan penuh
7. Tanggal 27 Agustus 2013- Neptunus di oposition
B.
Tatasurya
1.Iron rain (Hujan Besi)
2. Dust Buster (Pelebur Debu)
3. Close Encounter (Tabrakan Badai Terbesar)
4. Freeze Frame(rangka es)
5. Windy World (Dunia Angin)
6. Planet Popsicle (planet es)
7. Scarlet Rain (Hujan Merah)
8. Methane Moon (Bulan Metana)
9. Hot Crush (Panas Penghancur)
10. Serious Lightining (Petir Terparah)
C.
OPTIK
1. Aurora
2. Crepuscular Ray dan Anticrepuscular Ray
3. Sun dog dan Moon dog
4. Pelangi
5. Halo
BAB III
PEMBAHASAN
PERKEMBANGAN
ILMU ASTRONOMI, KETATASURYAAN
DAN ILMU
OPTIK DALAM FISIKA DITINJAU DARI
PERSPEKTIF
ISLAM DAN ILMU ALAMIAH MODERN
3.1 Hipotesis tata surya
1.
Hipotesis Nebula
Hipotesis nebula pertama kali dikemukakan oleh Emanuel Swedenborg (1688-1772) tahun 1734 dan disempurnakan
oleh Immanuel Kant (1724-1804) tahun
1775. Hipotesis serupa juga dikembangkan oleh Pierre Marquis de Laplace secara independen pada tahun 1796.
Hipotesis ini, yang lebih dikenal dengan Hipotesis Nebula Kant-Laplace, menyebutkan bahwa pada tahap
awa, tata surya masih berupa kabut raksasa. Kabut ini terbentuk dari debu, es,
dan gas yang disebut dengan nebula, serta unsur gas yang sebagian besar
hidrogen. Gaya gravitasi yang dimilikinya menyebabkan kabut itu menyusut dan
berputar dengan arah tertentu suhu kabut memanas, dan akhirnya menjadi bintang
raksasa (matahari). Matahari terus menyusut dan berputar semakin cepat. Cincin
gas dan es terlontar ke sekeliling matahari. Akibat gara gravitasi, gas-gas
tersebut memadat seiring dengan penurunan suhunya dan membentuk planet dalam
dan plant luar. Laplace berpendapat bahwa orbit berbentuk hampir melingkar dari
planet-planet merupakan konsekuensi dari pembentukannya.
2.
Hipotesis platesimal
Hipotesis planetisimal dikemukakan pertama kali oleh Thomas C, Chambarin dan Forest R. Moulton pada tahun 1900. Teori ini
menyatakan bahwa matahari yang kita lihat sekarang memang sudah ada sebagai
salah satu dari bintang-bintang yang banyak. Pada suatu masa ada sebuah bintang
lain yang berpapasan dengan matahari tersebut pada jarak yang tidak terlalu
jauh. Sebagai akibatnya maka terjadilah pasang naik pada permukaan matahari
maupun pada permukaan bintang tersebut. Akibat selanjutnya maka sebagian dari
massa matahari tersebut ada yang tertarik ke arah bintang.Pada waktu bintang
itu menjauh, menurut Moulton dan Chamberlin, sebagian dari massa matahari
tersebut jatuh kembali ke permukaan matahari dan sebagian lagi terhambur ke
ruang angkasa. Bagian yang terhambur ke ruang angkasa inilah yang dinamakan
planetisimal yang kemudian menjadi planet-planet dan satelitnya kemudian
beredar pada orbitnya.
3.
Hipotesis pasang surut bintang
Hipotesis pasang surut bintang pertama kali dikemukakan oleh James Jeans pada tahun 1917. Teori
Pasang-Surut yang hampir sama dengan teori Planetisimal. Jeans dan Jeffreys mengemukakan bahwa setelah bintang
itu menjauh maka massa matahari yang lepas itu membentuk bentukan cerutu
yang menjolok ke arah bintang. Kemudian sebagai akibat bintang yang semakin
menjauh maka masa cerutu itu terputus-putus dan membentuk gumpalan gas di
sekitar matahari. Gumpalan-gumpalan gas itulah yang kemudian menjadi
planet-planet dan satelitnya yang kemudian beredar pada orbitnya.
4. Teori Awan Debu atau Proto Planet (von
Weizsaecker)
Teori ini menyatakan bahwa tata surya itu
terbentuk dari gumpalan awan gas dan debu. Sampai sekarang ini di alam
semesta masih bertebaran gumpalan awan seperti itu. Kurang lebih 5.000 juta
tahun yang lalu, salah satu gumpalan awan itu mengalami pemampatan. Pada proses
pemampatan itu partikel-partikel debu tertarik ke bagian pusat awan itu
kemudian membentuk gumpalan bola dan mulai berpilin. Lama-kelamaan gumpalan gas
itu memipih sehingga menyerupai bentuk cakram yang tebal dibagian tengah dan
lebih tipis di bagian tepinya.Bagian tengah cakram ini berpilin lebih lambat
daripada bagian tepinya. Parttikel-partikel dibagian tengah ini saling menekan
sehingga menimbulkan panas dan menjadi pijar. Bagian inilah yang kemudian
menjadi matahari.Bagian paling luar berputar sangat cepat sehingga
terpecah-pecah menjadi banyak gumpalan gas dan debu yang lebih kecil.
Gumpalan-gumpalan ini berpilin juga seperti gumpalan bola semula.
Gumpalan-gumpalan ini kemudian menjadi dingin lalu membeku. Gumpalan-gumpalan
yang membeku inilah yang kemudian menjadi planet-planet dan satelitnya dan
beredar pada garis edarnya.
5.
Hipotesis bintang kembar
Hipotesis ini dikemukakan oleh Fred Hoyle (1915-2001)
pada tahun 1956. Hipotesis ini mengemukakan bahwa dahulu tata surya kita berupa
dua bintang yang hampir sama ukurannya dan letaknya pun berdekatan, kemudian
salah satunya meledak menjadi serpihan-serpihan kecil. Serpihan itu
terperangkap oleh gravitasi bintang yang tidak meledak dan mulai
mengelilininginya.
3.2 Macam – Macam Astronomi Dan Optik
1.
Macam-macam Astronomi
Pada
abad ke-20, astronomi profesional terbagi menjadi dua cabang: astronomi observasional dan astronomi teoretis. Astronomi
observational melibatkan pengumpulan data dari pengamatan atas benda-benda
langit, yang kemudian akan dianalisis menggunakan prinsip-prinsip dasar fisika.
Sedangkan Astronomi teoritis terpusat pada upaya pengembangan model-model
komputer/analitis guna menjelaskan sifat-sifat benda-benda langit serta
fenomena-fenomena alam lainnya. Adapun kedua cabang ini bersifat komplementer,
astronomi teoretis berusaha untuk menerangkan hasil-hasil pengamatan astronomi
observasional, dan astronomi observasional kemudian akan mencoba untuk
membuktikan kesimpulan yang dibuat oleh astronomi teoretis.
Kedua
cabang ilmu astronomi tersebut mempunyai satu tujuan yakni untuk berusaha
menerangkan hasil-hasil pengamatan kemudian akan mencoba untuk membuktikan
kesimpulan yang berperan penting dalam banyak penemuan-penemuan astronomi.
Astronomi harus dibedakan dari astrologi, yang merupakan kepercayaan bahwa
nasib dan urusan manusia berhubungan dengan letak benda-benda langit seperti
bintang atau rasinya. Memang betul bahwa dua bidang ini memiliki asal-usul yang
sama, namun pada saat ini keduanya sangat berbeda.
A. Astronomi
observasional
1)
Astronomi
radio
Astronomi
observasional jenis ini mengamati radiasi dengan panjang gelombang yang lebih
dari satu milimeter (perkiraan). Astronomi observasional tipe radio mengamati
gelombang-gelombang yang bisa diperlakukan selayaknya gelombang, bukan
foton-foton yang diskrit. Dengan demikian pengukuran fase dan amplitudonya
relatif lebih gampang apabila dibandingkan dengan gelombang yang lebih pendek.
Beberapa contoh benda-benda yang bisa diamati oleh astronomi radio: supernova, gas
antarbintang, pulsar, dan inti galaksi aktif (AGN - active galactive nucleus).
2)
Astronomi
inframerah
Astronomi
inframerah melibatkan pendeteksian beserta analisis atas radiasi inframerah
(radiasi di mana panjang gelombangnya melebihi cahaya merah). Sebagian besar
radiasi jenis ini diserap oleh atmosfer Bumi, kecuali yang panjang gelombangnya
tidak berbeda terlampau jauh dengan cahaya merah yang tampak. Oleh sebab itu,
observatorium yang hendak mengamati radiasi inframerah harus dibangun di
tempat-tempat yang tinggi dan tidak lembap, atau malah di ruang angkasa.
Apabila
radiasinya memiliki gelombang yang cenderung lebih panjang, ia dapat pula
membantu para astronom mengamati bintang-bintang muda pada awan-awan molekul
dan inti-inti galaksi — sebab radiasi seperti itu mampu menembus debu-debu yang
menutupi dan mengaburkan pengamatan astronomis. Astronomi inframerah juga bisa
dimanfaatkan untuk mempelajari struktur kimia benda-benda angkasa, karena
beberapa molekul memiliki pancaran yang kuat pada panjang gelombang ini. Salah
satu kegunaannya yaitu mendeteksi keberadaan air pada komet-komet.
3)
Astronomi
optikal
Dikenal
juga sebagai astronomi cahaya tampak, astronomi optikal mengamati radiasi
elektromagnetik yang tampak oleh mata telanjang manusia. Oleh sebab itu, ini
merupakan cabang yang paling tua, karena tidak memerlukan peralatan. Mulai dari
penghujung abad ke-19 sampai kira-kira seabad setelahnya, citra-citra astronomi
optikal memakai teknik fotografis, namun sebelum itu mereka harus digambar
menggunakan tangan. Dewasa ini detektor-detektor digitallah yang dipergunakan,
terutama yang memakai CCD (charge-coupled devices, peranti tergandeng-muatan).
4)
Astronomi
ultraungu
Ultraungu
yaitu radiasi elektromagnetik dengan panjang gelombang lebih kurang 100 sampai
3.200 Å (10-320 nm).Cahaya dengan panjang seperti ini diserap oleh atmosfer
Bumi, sehingga untuk mengamatinya harus dilakukan dari lapisan atmosfer bagian
atas, atau dari luar atmosfer (ruang angkasa). Astronomi jenis ini cocok untuk
mempelajari radiasi termal dan garis-garis spektrum pancaran dari
bintang-bintang biru yang bersuhu sangat tinggi (klasifikasi OB), sebab
bintang-bintang seperti itu sangat cemerlang radiasi ultraungunya — penelitian
seperti ini sering dilakukan dan mencakup bintang-bintang yang berada di
galaksi-galaksi lain. Selain bintang-bintang OB, benda-benda langit yang kerap
diamati melalui astronomi cabang ini antara lain nebula-nebula planet,
sisa-sisa supernova, atau inti-inti galaksi aktif. Diperlukan penyetelan yang
berbeda untuk keperluan seperti demikian sebab cahayanya mudah tertelan oleh
debu-debu antarbintang.
5)
Astronomi
sinar-X
Benda-benda
bisa memancarkan cahaya berpanjang gelombang sinar-X melalui pancaran
sinkrotron (berasal dari elektron-elektron yang berkisar di sekeliling medan
magnet) atau melalui pancaran termal gas pekat dan gas encer pada 107 K.
Sinar-X juga diserap oleh atmosfer, sehingga pengamatan harus dilakukan dari
atas balon, roket, atau satelit penelitian. Sumber-sumber sinar-X antara lain
bintang biner sinar-X (X-ray binary), pulsar, sisa-sisa supernova, galaksi
elips, gugusan galaksi, serta inti galaksi aktif.
6)
Astronomi
sinar-gamma
Astronomi
sinar-gamma mempelajari benda-benda astronomi pada panjang gelombang paling
pendek (sinar-gamma). Sinar-gamma bisa diamati secara langsung melalui
satelit-satelit seperti Observatorium Sinar-Gamma Compton (CGRO), atau dengan
jenis teleskop khusus yang disebut teleskop Cherenkov (IACT).
B. Astronomi
Teoretis
Terdapat
banyak jenis-jenis metode dan peralatan yang bisa dimanfaatkan oleh seorang
astronom teoretis, antara lain model-model analitik (misalnya politrop untuk
memperkirakan perilaku sebuah bintang) dan simulasi-simulasi numerik
komputasional; masing-masing dengan keunggulannya sendiri. Para teoris berupaya
untuk membuat model-model teoretis dan menyimpulkan akibat-akibat yang dapat
diamati dari model-model tersebut. Ini akan membantu para pengamat untuk
mengetahui data apa yang harus dicari untuk membantah suatu model, atau
memutuskan mana yang benar dari model-model alternatif yang bertentangan. Para
teoris juga akan mencoba menyusun model baru atau memperbaiki model yang sudah
ada apabila ada data-data baru yang masuk. Apabila terjadi
pertentangan/inkonsistensi, kecenderungannya adalah untuk membuat modifikasi
minimal pada model yang bersangkutan untuk mengakomodir data yang sudah
didapat. Kalau pertentangannya terlalu banyak, modelnya bisa dibuang dan tidak
digunakan lagi.
Topik-topik
yang dipelajari oleh astronom-astronom teoretis antara lain: dinamika dan
evolusi bintang-bintang; formasi galaksi; struktur skala besar materi di alam
semesta; asal-usul sinar kosmik; relativitas umum; dan kosmologi fisik
(termasuk kosmologi dawai dan fisika astropartikel). Relativitas astrofisika
dipakai untuk mengukur ciri-ciri struktur skala besar, di mana ada peran yang
besar dari gaya gravitasi; juga sebagai dasar dari fisika lubang hitam dan
penelitian gelombang gravitasional.
Beberapa
model/teori yang sudah diterima dan dipelajari luas yaitu teori Dentuman Besar,
inflasi kosmik, materi gelap, dan teori-teori fisika fundamental. Kelompok
model dan teori ini sudah diintegrasikan dalam model Lambda-CDM.
1) Astronomi surya
Matahari
adalah bintang yang terdekat dari Bumi pada sekitar 8 menit cahaya, dan yang
paling sering diteliti; ia merupakan bintang katai pada deret utama dengan
klasifikasi G2 V dan usia sekitar 4,6 milyar tahun. Walau tidak sampai tingkat
bintang variabel, Matahari mengalami sedikit perubahan cahaya melalui aktivitas
yang dikenal sebagai siklus bintik Matahari. Bintik Matahari ialah daerah
dengan suhu yang lebih rendah dan aktivitas magnetis yang hebat. Terdapat angin
surya berupa partikel-partikel plasma yang bertiup keluar dari Matahari secara
terus-menerus sampai mencapai titik heliopause. Angin ini bertemu dengan magnetosfer
Bumi dan membentuk sabuk-sabuk radiasi Van Allen dan — di mana garis-garis
medan magnet Bumi turun menujur atmosfer — menghasilkan aurora.
2) Ilmu keplanetan
Cabang
astronomi ini meneliti susunan planet, bulan, planet katai, komet, asteroid,
serta benda-benda langit lain yang mengelilingi bintang, terutama Matahari,
walau ilmu ini meliputi juga planet-planet luar surya. Tata Surya kita sendiri
sudah dipelajari secara mendalam. pertama-tama melalui teleskop dan kemudian
menggunakan wahana-wahana antariksa, sehingga pemahaman sekarang mengenai
formasi dan evolusi sistem keplanetan ini sudah sangat baik, walaupun masih ada
penemuan-penemuan baru. Tata Surya dibagi menjadi beberapa kelompok:
planet-planet bagian dalam, sabuk asteroid, dan planet-planet bagian luar.
Planet-planet bagian dalam adalah planet-planet bersifat kebumian yaitu
Merkurius, Venus, Bumi dan Mars. Planet-planet bagian luar adalah
raksasa-raksasa gas Tata Surya yaitu Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.
Apabila kita pergi lebih jauh lagi, maka akan ditemukan benda-benda
trans-Neptunus: pertama sabuk Kuiper dan akhirnya awan Oort yang bisa
membentang sampai satu tahun cahaya.
3) Astronomi bintang
Bintang
terbentuk pada awan-awan molekul raksasa, yaitu daerah-daerah yang padat akan
debu dan gas. Ketika kehilangan kestabilannya, serpihan-serpihan dari awan-awan
ini bisa runtuh di bawah gaya gravitasi dan membentuk protobintang. Apabila
bagian intinya mencapai kepadatan dan suhu tertentu, fusi nuklir akan dipicu
dan akan terbentuklah sebuah bintang deret utama. Nyaris semua unsur yang lebih berat dari hidrogen dan helium
merupakan hasil dari proses yang terjadi di dalam inti bintang-bintang.
Ciri-ciri
yang akan dimiliki oleh suatu bintang secara garis besar ditentukan oleh massa
awalnya: semakin besar massanya, maka semakin tinggi pula luminositasnya, dan
semakin cepat pula ia akan menghabiskan bahan bakar hidrogen pada inti. Lambat
laun, bahan bakar hidrogen ini akan diubah menjadi helium, dan bintang yang
bersangkutan akan mulai berevolusi. Untuk melakukan fusi helium, diperlukan
suhu inti yang lebih tinggi, oleh sebab itu intinya akan semakin padat dan
ukuran bintang pun berlipat ganda — bintang ini telah menjadi sebuah raksasa
merah. Fase raksasa merah ini relatif singkat, sampai bahan bakar heliumnya
juga sudah habis terpakai. Kalau bintang tersebut memiliki massa yang sangat
besar, maka akan dimulai fase-fase evolusi di mana ia semakin mengecil secara
bertahap, sebab terpaksa melakukan fusi nuklir terhadap unsur-unsur yang lebih
berat.
4) Astronomi galaksi
Tata
Surya kita beredar di dalam Bima Sakti, sebuah galaksi spiral berpalang di Grup
Lokal. Ia merupakan salah satu yang paling menonjol di kumpulan galaksi
tersebut. Bima Sakti merotasi materi-materi gas, debu, bintang, dan benda-benda
lain, semuanya berkumpul akibat tarikan gaya gravitasi bersama. Bumi sendiri
terletak pada sebuah lengan galaksi berdebu yang ada di bagian luar, sehingga
banyak daerah-daerah Bima Sakti yang tidak terlihat.
Pada
pusat galaksi ialah bagian inti, semacam tonjolan berbentuk seperti batang;
diyakini bahwa terdapat sebuah lubang hitam supermasif di bagian pusat ini.
Bagian ini dikelilingi oleh empat lengan utama yang melingkar dari tengah
menuju arah luar, dan isinya kaya akan fenomena-fenomena pembentukan bintang,
sehingga memuat banyak bintang-bintang muda (metalisitas populasi I). Cakram
ini lalu diliputi oleh cincin galaksi yang berisi bintang-bintang yang lebih
tua (metalisitas populasi II) dan juga gugusan-gugusan bintang berbentuk bola
(globular), yaitu semacam kumpulan-kumpulan bintang yang relatif lebih padat.
5) Astronomi ekstragalaksi
Astronomi
Ekstragalaksi merupkan penelitian benda-benda yang berada di luar galaksi kita
merupakan cabang yang mempelajari formasi dan evolusi galaksi-galaksi,
morfologi dan klasifikasi mereka, serta pengamatan atas galaksi-galaksi aktif
beserta grup-grup dan gugusan-gugusan galaksi. Kebanyakan galaksi akan
membentuk wujud-wujud tertentu, sehingga pengklasifikasiannya bisa disusun
berdasarkan wujud-wujud tersebut. Biasanya, mereka dibagi-bagi menjadi
galaksi-galaksi spiral, elips, dan tak beraturan.
Sebuah
galaksi dikatakan aktif apabila memancarkan jumlah energi yang signifikan dari
sumber selain bintang-bintang, debu, atau gas; juga, apabila sumber tenaganya
berasal dari daerah padat di sekitar inti kemungkinan sebuah lubang hitam
supermasif yang memancarkan radiasi benda-benda yang ia telan. Apabila sebuah
galaksi aktif memiliki radiasi spektrum radio yang sangat terang serta
memancarkan jalaran gas dalam jumlah besar, maka galaksi tersebut tergolong
galaksi radio. Contoh galaksi seperti ini adalah galaksi-galaksi Seyfert,
kuasar, dan blazar. Kuasar sekarang diyakini sebagai benda yang paling dapat
dipastikan sangat cemerlang; tidak pernah ditemukan spesimen yang redup.
Struktur
skala besar dari alam semesta sekarang digambarkan sebagai kumpulan dari
grup-grup dan gugusan-gugusan galaksi. Struktur ini diklasifikasi lagi dalam
sebuah hierarki pengelompokan; yang terbesar adalah maha-gugusan
(supercluster). Kemudian kelompok-kelompok ini disusun menjadi filamen-filamen
dan dinding-dinding galaksi, dengan kehampaan di antara mereka.
6) Kosmologi
Kosmologi,
berasal dari bahasa Yunani kosmos (κόσμος, "dunia") dan akhiran
-logia dari logos (λόγος, "pembelajaran") dapat dipahami sebagai upaya
meneliti alam semesta secara keseluruhan. Pengamatan atas struktur skala besar
alam semesta, yaitu cabang yang dikenal sebagai kosmologi fisik, telah
menyumbangkan pemahaman yang mendalam tentang formasi dan evolusi jagat raya.
Salah satu teori yang paling penting (dan sudah diterima luas) adalah teori
Dentuman Besar, yang menyatakan bahwa dunia bermula pada satu titik dan
mengembang selama 13,7 milyar tahun sampai ke masa sekarang. Gagasan ini bisa
dilacak kembali pada penemuan radiasi latar belakang gelombang mikro kosmis
pada tahun 1965.
2.Macam-macam
Optik
Optika adalah cabang fisika yang
menggambarkan perilaku dan sifat cahaya dan
interaksi cahaya dengan materi.
Optika menerangkan dan diwarnai oleh gejala optis. Kata optik berasal dari bahasa Latin ὀπτική, yang berarti tampilan.
Bidang optika biasanya
menggambarkan sifat cahaya tampak, inframerah dan ultraviolet; tetapi karena cahaya adalah gelombang
elektromagnetik, gejala yang sama
juga terjadi di sinar-X, gelombang mikro, gelombang radio, dan
bentuk lain dari radiasi
elektromagnetikdan juga gejala serupa
seperti pada sorotan partikel muatan (charged beam). Optik secara umum dapat dianggap
sebagai bagian darikeelektromagnetan. Beberapa gejala optis bergantung pada sifat kuantum cahaya
yang terkait dengan beberapa bidang optika hinggamekanika kuantum. Dalam prakteknya, kebanyakan dari gejala optis dapat
dihitung dengan menggunakan sifat elektromagnetik daricahaya,
seperti yang dijelaskan oleh persamaan Maxwell. Bidang optika memiliki identitas, masyarakat, dan
konferensinya sendiri. Aspek keilmuannya sering disebut ilmu optik atau fisika optik.
Ilmu optik terapan sering disebut rekayasa optik. Aplikasi dari rekayasa optik
yang terkait khusus dengan sistem iluminasi (iluminasi)
disebut rekayasa pencahayaan. Setiap disiplin cenderung sedikit berbeda dalam
aplikasi, keterampilan teknis, fokus, dan afiliasi profesionalnya.
Inovasi lebih baru dalam rekayasa optik sering
dikategorikan sebagai fotonika atau optoelektronika. Batas-batas antara bidang ini dan "optik"
sering tidak jelas, dan istilah yang digunakan berbeda di berbagai belahan
dunia dan dalam berbagai bidang industri. Karena aplikasi yang luas dari ilmu
"cahaya" untuk aplikasi dunia nyata, bidang ilmu optika dan rekayasa
optik cenderung sangat lintas disiplin. Ilmu optika merupakan bagian dari
berbagai disiplin terkait termasuk elektro, fisika, psikologi, kedokteran
(khususnya optalmologidan optometri),
dan lain-lain. Selain itu, penjelasan yang paling lengkap tentang perilaku
optis, seperti dijelaskan dalam fisika, tidak selalu rumit untuk kebanyakan
masalah, jadi model sederhana dapat digunakan. Model sederhana ini cukup untuk
menjelaskan sebagian gejala optis serta mengabaikan perilaku yang tidak relevan
dan / atau tidak terdeteksi pada suatu sistem. Di ruang bebas suatu gelombang
berjalan pada kecepatan c = 3×108 meter/detik.
Ketika memasuki medium tertentu (dielectric ataunonconducting) gelombang berjalan
dengan suatu kecepatan v, yang mana adalah karakteristik dari bahan dan kurang
dari besarnyakecepatan
cahaya itu sendiri (c).
Perbandingan kecepatan cahaya di dalam ruang hampa dengan kecepatan cahaya di medium adalahindeks bias n bahan sebagai berikut : n = c⁄v
A.
Optik Klasik
Sebelum optika kuantum menjadi penting, asarnya terdiri dari aplikasi
elektromagnetik klasik dan pendekatan frekuensi tinggi untuk cahaya.
Optik klasik terbagi menjadi dua cabang utama:optika geometris dan optika fisis.
Optika geometris, atau optika sinar, menjelaskan propagasi cahaya dalam bentuk "sinar".
Sinar dibelokkan di antarmuka antara
dua medium yang berbeda, dan dapat berbentuk kurva di dalammedium yang
mana indeks-refraksinya merupakan fungsi dari posisi. "Sinar" dalam
optik geometris merupakan objek abstrak,
atau "instrumen",
yang sejajar dengan muka gelombang darigelombang optis
sebenarnya. Optik geometris menyediakan aturan untuk penyebaran sinar ini
melalui sistem optis, yang menunjukkan bagaimana sebenarnya muka gelombang akan
menyebar. Ini adalah penyederhanaan optik yang signifikan, dan gagal untuk
memperhitungkan banyak efek optis penting seperti difraksi dan polarisasi.
Namun hal ini merupakan pendekatan yang baik, jika panjang gelombang cahaya tersebut sangat kecil dibandingkan dengan ukuran
struktur yang berinteraksi dengannya. Optik geometris dapat digunakan untuk
menjelaskan aspek geometris dari penggambaran cahaya (imaging),
termasuk aberasi optis.
Optika geometris sering disederhanakan lebih lanjut
oleh pendekatan
paraksial, atau "pendekatan
sudut kecil." Perilaku matematika yang kemudian menjadi linear,
memungkinkan komponen dan sistem optis dijelaskan dalam bentuk matrik
sederhana. Ini mengarah kepada teknik optik Gauss dan penelusuran
sinar paraksial, yang digunakan untui order pertama dari sistem optis,
misalnya memperkirakan posisi dan magnifikasi dari gambar dan objek. Propagasi sorotan Gauss merupakan perluasan dari optik paraksial yang
menyediakan model lebih akurat dari radiasi koheren seperti sorotan laser.
Walaupun masih menggunakan pendekatan paraksial, teknik ini memperhitungkan difraksi,
dan memungkinkan perhitungan pembesaran sinar laser yang
sebanding dengan jarak, serta ukuran minimum sorotan yang dapat terfokus. Propagasi sorotan Gauss menjembatani kesenjangan antara optik geometris dan
fisik.
Optika fisis atau optika gelombang membentuk prinsip Huygens dan memodelkan propagasi dari muka gelombang kompleks melalui sistem optis, termasuk amplitudo dan fase dari gelombang.
Teknik ini, yang biasanya diterapkan secara numerik pada komputer, dapat
menghitung efek difraksi, interferensi, polarisasi,
serta efek kompleks lain. Akan tetapi pada umumnya aproksimasi masih digunakan,
sehingga tidak secara lengkap memodelkan teori gelombang
elektromagnetik dari propagasi cahaya.
Model lengkap tersebut jauh lebih menuntut komputasi, akan tetapi dapat
digunakan untuk memecahkan permasalahan kecil yang memerlukan pemecahan lebih
akurat
Topik yang berkaitan dengan
optik klasik
|
·
Difraksi
kisi-kisi
·
Optik
geometris dari:
|
B. Optik Modern
Optika modern meliputi bidang ilmu dan rekayasa optik yang menjadi terkenal pada abad
ke 20. Bidang-bidang ilmu optik ini biasanya berhubungan dengan elektromagnetik
atau sifat kuantum dari cahaya tetapi tidak termasuk topik lain.
Topik yang berkaitan dengan optik modern
3.3 Fenomena Yang Terjadi
1. Astronomi
|
2.
Tanggal 6
Agustus 2013 - Bulan Baru
Bulan akan berada di antara Bumi dan Matahari, dan tidak akan terlihat dari Bumi. Fase ini berlangsung pada jam 21:15.
3. Tanggal 12 Agustus 2013 - Merkurius di Aphelion
![]() |
Merkurius mencapai titik terjauhnya dari Matahari pada pukul 03:00.
Perseids adalah salah
satu hujan meteor terbaik yang menghasilkan hingga 60 meteor per jam. Meteor
ini seakan-akan terpancar dari konstelasi Perseus.Hujan meteor ini dihasilkan
oleh pecahan Komet Swift-Tuttle.Laporan terbaru dari NASA bahwa hujan meteor
Perseids merupakan hujan meteor yang banyak memancarkan bola api.Untuk melihat fenomena ini,usahakan mencari
tempat yang jauh dari lampu perkotaan dan melihat kearah timur laut setelah
tengah malam.
5. Tanggal 19 Agustus 2013 - Bulan Berada Pada Titik Terdekat (Perigee)
5. Tanggal 19 Agustus 2013 - Bulan Berada Pada Titik Terdekat (Perigee)
Bulan mencapai perigee, titik terdekat dengan Bumi: 362.265 km from Earth. dari Bumi.
|
Planet ini akan berada pada posisi terdekatnya dengan Bumi dan akan sepenuhnya diterangi oleh Matahari.Inilah saat yang tepat untuk mengamati Neptunus karena jaraknya yang dekat dan muncul sebagai titik biru kecil.
2.
Tata Surya
Selama beberapa dekade, astronom telah menggunakan teleskop untuk
menguraikan kondisi atmosfer di planet yang jauh. Dan menyimpulkan fakta bahwa
kita bersyukur telah tinggal di bumi ini. Inilah Fenomena-Fenomena Paling
Ekstrim di Tata Surya Kita.

Pesawat ruang angkasa NASA Cassini telah melihat sebuah badai listrik di
Saturnus yang lebih besar daripada badai listrik daratan Amerika Serikat ,
dengan kilatan petir yang 1.000 kali lebih kuat daripada di Bumi.
Badai petir yang membentang 2.175 mil (3.500 kilometer) dari utara ke selatan
dan memancarkan suara radio yang sama dengan yang dihasilkan di bumi.

Sesuai namanya,. venus merupakan tempat terpanas di tata surya kita. dengan suhu sekitar 750 Kelvin dan memiliki tekanan 90 kali di bumi ini akan membuat setiap pengunjung akan hancur (crush).
Ilmuwan menyebutkan bahwa hal ini terjadi karena adanya efek rumah kaca
yang berlebihan dari awan sulfat yang menutupi langit-langit venus. Maka
jadilah efek rumah kaca yang besar dan menyebabkan hal ini.
![]() |
Pesawat ruang angkasa Cassini Huygens menemukan bukti kuat diantara hujan
deras metana cair yang terjadi di bulan nya saturnus “Titan”. Dan mungkin “air”
yang ada di bulan adalah metana juga karena pada suhu dingin Titan (94 derajat Kelvin)
air pun akan dikurung seperti es.

Pada musim panas 2001, setidaknya 50 ton partikel merah jatuh di Kerala,
India dan terus berlangsung selama hampir dua bulan bersama hujan. Ternyata
benda merah berkarat ini termasuk partikel dari badai debu dan sel-sel biologis
yang berasal dari luar angkasa (bakteri sejenis itu mksdnya).
Dalam edisi bulan April jurnal Astrophysics and Space Science, ilmuwan dari
Mahatma Gandhi University melaporkan bahwa partikel memiliki penampilan sel-sel
biologis, dapat bereproduksi di suhu mendesis, dan tidak memiliki kesamaan
dengan partikel debu.
Pluto yang sekarang tidak di anggap planet ke 9 dalam
tata surya ini memiliki fakta bahwa sinar matahari yang di dapat pluto di
bandingkan bumi adalah sekitar 1:1000 tahun dan menyebabkan planet ini terdiri
dari es beku yang terdiri dari nitrogen, metana dan karbon dioksida dengan suhu
berkisar antara minus 387 hingga minus 369 Fahrenheit (40-50 derajat Kelvin).

![]() |
Di Neptunus ditemukan gemuruh angin yang bertiup lebih banyak dan kuat
daripada yang ada di Bumi, mencapai 1.500 mph (2.414 kph). Seiring dengan
rotasi planet yang cepat (sekitar 16 jam) sehingga menyebabkan konveksi panas-dingin
yang cepat juga, lalu dapat mempengaruhi kecepatan angin dan menciptakan
kecepatan yang melebihi kecepatan angin di bumi.

Suhu di Uranus bisa mencapai di bawah minus 300 derajat Fahrenheit (89 Kelvin). Uranus memiliki rotasi 17 jam namun revolusi yang mencapai 84 tahun menyebabkan musim (ekstrim) akan lama berganti. Kadang-kadang kondisinya bisa begitu dingin sehingga gas metana di atmosfer mengembun menjadi metana kristal-awan.

Dua bintik bulatan di planet jupiter diatas adalah
badai yang sedang mengamuk di planet tersebut. Dari ukuran badainya saja dapat
kita ketahui. Yang besar dinamakan the great Red Spot, badai yang lebih dari
dua kali lipat lebar Bumi dengan 350-mph ((563 kph) angin dan yang kecil
(badai) di namakan Red Jr. Walaupun tidak sepenuhnya dipahami, para ilmuwan
berpikir warna merah berkorelasi dengan intensitas badai-angin lalu
membangkitkan senyawa kimia dari bawah awan dan mengangkat mereka ke tempat
yang tinggi, ditambah sinar ultraviolet sehingga menghasilkan rona bata.

Mars diketahui telah menghempaskan badai debu yang melanda seluruh belahan mars. Debu berwarna karat ini dapat tertiup dengan kecepatan 60-100 mph (97-161 kilometer) per jam, yang berlangsung selama berminggu-minggu. Begitu dimulai, kabut tak tertembus ini dapat menyelimuti lebih dari separuh planet, meningkatkan suhu 30 derajat Celcius di belahan mars.

Disebut “bintang gagal”, planet brown dwarf ini adalah planet yang baru
ditemukan di tata surya kita. Warna cokelat menandakan bahwa planet ini
memiliki unsur ferum (besi) yang tinggi. Planet ini memiliki badai seperti yang
ada di jupiter dan menghempaskan besi-besi ke permukaan nya. Brown dwarf ini
semakin dingin dari waktu ke waktu, molekul gas mengembun menjadi cairan
besi-besi awan dan hujan. Dengan pendinginan lebih lanjut, badai besar menyapu
menjauh awan, membiarkan cahaya inframerah terang tersebar ke luar angkasa.
1. Konjungsi Jupiter (21 Januari)
![]() |
Planet Jupiter bersinar terang. Fenomena ini terlihat sangat jelas pada
malam hari terutama di daerah Amerika Utara. Saat ini terjadi, bulan dan planet
terbesar dalam tata surya kita, Jupiter, akan terlihat lebih dekat jika kita
melihatnya di langit malam. Fenomena ini adalah konjungsi bulan-Jupiter
terdekat hingga tahun 2026.
2. Penampakan planet Merkurius (2-23 Februari)
Pada tanggal-tanggal tersebut, planet Merkurius akan bergerak cukup jauh
dari sinar matahari, sehingga terlihat pada langit barat, segera setelah
matahari terbenam. Merkurius akan berada di posisi paling jauh dari matahari
pada tanggal 16 Februari, dan sebelum tanggal itu, planet tersebut akan sangat
terang dari -1.2 sampai -0.6 magnitudo. Magnitudo adalah ukuran untuk tingkat
terang objek langit, dan magnitudo negatif menunjukkan tingkat terang yang luar
biasa.
3. Komet PANSTARRS (10-24 Maret)
Komet PANSTARRS pertama kali ditemukan pada bulan Juli 2011, dan semakin
terang sejak pertama ditemukan. Komet ini diperkirakan akan berada pada bentuk
terbaiknya pada tanggal 10-24 Maret 2013. Selain itu, dalam waktu tersebut,
komet ini akan berada paling dekat dengan matahari (45 juta kilometer) dan
bumi (164 juta kilometer).
4. Gerhana bulan sebagian (25 April)
Fenomena ini akan menjadi gerhana bulan parsial yang sangat kecil, dan akan
terlihat dengan sangat jelas pada Belahan Timur (Eropa, Afrika, Australia dan
sebagian besar Asia). Gerhana ini tidak akan terlihat di daerah Amerika Utara.
5. Gerhana Matahari melingkar seperti cincin (9 Mei)
Fenomena ini terlihat seperti menempatkan satu koin uang receh di atas
nikel: cincin sinar matahari tetap terlihat mengelilingi bulan. Pada titik
gerhana terbesar, fase cincin akan berlangsung selama 6 menit, 4 detik. Warga
Hawaii akan melihat gerhana parsial pada 15:48 waktu Hawaii, bulan akan menjadi
kabur sekitar 32 persen dari lingkar matahari.
6. Planet
saling ‘berdansa’ (24-30 Mei)
Yang dimaksud berdansa di sini adalah posisi planet Merkurius, Venus dan
Jupiter yang selalu berubah-ubah tiap malam. Pada tanggal 28 Mei, planet Venus
akan bersinar lebih terang dibandingkan planet Jupiter.
7. Bulan purnama terbesar 2013 (23 Juni)
Pada tanggal tersebut, bulan akan terlihat bulat sempurna dan 32 menit
sebelumnya bulan akan berada pada titik terdekat dengan bumi pada 2013 pada jarak 356.991 km (supermoon). Selama hari itu juga
akan terjadi pasang-surut air laut yang ekstrim.
8. Hujan meteor Perseid (12 Agustus)
Saat fenomena ini terjadi, terdapat sekitar 90 meteor per jamnya dan
dianggap sebagai salah satu fenomena tahunan terbaik. Fenomena ini bisa
dijadikan tontonan untuk orang yang sedang berkemah atau orang yang senang
menghabiskan waktu di bawah langit malam.
9. Gerhana
Bulan Penumbra (18 Oktober)
Fenomena ini
dapat dilihat di sebagian besar Asia, Eropa dan Afrika. Bagian tengah dan timur
Amerika Utara bisa melihat fenomena Hunters’ Moon yang sedikit menggelap saat
petang.
10. Gerhana
Matahari campuran (3 November)
Fenomena ini
termasuk gerhana matahari yang tidak biasa, karena gerhana berubah cepat dari
melingkar menjadi total. Gerhana terbesar akan terjadi sekitar 402 km di lepas
pantai Liberia. Jalur bayangan kemudian akan menyapu Afrika tengah, melewati
sebagian Gabon, Kongo, Republik Demokratik Kongo, Uganda dan Kenya, sebelum
berakhir saat matahari terbenam di perbatasan Ethiopia-Somalia.
Komet ini pertama ditemukan oleh dua astronom amatir, yaitu Vitali Nevski
dari Belarusia dan Artyom Novichonok dari Rusia. Pada tanggal 28 November,
komet tersebut akan berada dekat dengan matahari. Setelah itu, pada beberapa
pekan berikutnya, komet ISON akan berada pada tempat terbaik untuk dilihat pada
pagi dan malam hari dari belahan bumi utara. Ini membuatnya menjadi komet yang
paling banyak ditonton sepanjang masa.
12. Pesona
Venus (Desember)
Planet Venus akan memberikan pemandangan paling hebat untuk 2013 dan 2014
baik langit malam atau pagi hari. Venus menghiasi langit malam barat daya
selama tiga jam setelah matahari terbenam pada awal bulan, dan 1,5 jam setelah
matahari terbenam saat Malam Tahun Baru. Pada tanggal 6 Desember malam, Venus
akan berada pada puncak kecemerlangannya.
13. Hujan meteor Geminid (13-14 Desember)
Fenomena ini dikatakan tontonan yang sangat menghibur, bahkan melebihi
fenomena hujan meteor Perseid. Saat fenomena ini terjadi, Anda dapat melihat penampakan
120 meteor per jamnya. Bagi para penikmat langit malam, tentunya
fenomena-fenomena di atas tidak dapat dilewatkan begitu saja. Saksikan sendiri
saat tanggal-tanggal yang sudah disebutkan di atas tiba. (tom)
3. Optik
1. Aurora
Aurora merupakan pancaran cahaya
pada langit daerah lintang tinggi, sebagai akibat atas pembelokan partikel
angin matahari oleh magnetosfer ke arah kutub, serta adanya reaksi dengan
molekul-molekul atmosfer.
Matahari, atau Bintang merah yang menjadi
pusat orbit planet-planet wilayah tatasurya ternyata hanyalah satu diantara
milyaran bintang lainnya di galaksi bimasakti. Pada inti pusatnya, ia memiliki
suhu 14 juta kelvin dengan tekanan 100 milyar kali lipat tekanan atmosfer di
bumi. Cahaya yang dipancarkan matahari berasal dari reaksi fusi termonuklir
yang terjadi pada inti bintang. Secara konveksi, energi hasil reaksi fusi
tersebut dialirkan ke permukaan. Dari aliran konveksi tersebut, tercipta medan
magnet yang sangat kuat di permukaan matahari. Daerah-daerah medan magnet tersebut
relatif gelap (lebih dingin) dari pada sekitarnya, sehingga ia dinamakan bintik
matahari atau sunspot. Menurut beberapa ahli astronomi, sunspot ini dianggap
sebagai bendungan pasir pada arus air yang liar, nah ketika kekuatannya sudah
tak sanggup lagi menahan tekanan arus, maka ia akan ‘jebol’. ‘Jebol’nya sunspot
ini akan memuntahkan kandungan energi yang disalurkan sebagai arus proton atau
elektron. Energi yang dilontaran keluar matahari tersebutlah yang disebut
sebagai angin matahari. Jika dengan intensitas yang besar maka dinamakan badai
matahari.
Proses
terjadinya angin matahari. Dimulai dengan terbentuk nya sunspot yang
menciptakan medan magnet. Karena kekuatan sudah tak sanggup lagi menahan
tekanan arus, maka ia akan ‘jebol’. Jebol nya sunspot ini akan memuntahkan
kandungan energi yang disalurkan sebagai arus proton atau elektron. Perjalanan
angin matahari menuju bumi, dapat ditempuh selama 18 jam hingga 2 hari
perjalanan antariksa.
Ketika melewati
Merkurius dan Venus, angin matahari akan langsung begitu saja menerpa
atmosfernya, sehingga planet tersebut mengalami peningkatan suhu yang luar
biasa akibat dari terpaan aliran proton dan elektron yang dibawanya. Namun
demikian, lain halnya ketika angin matahari itu menghantam bumi. Bumi ini
bagaikan magnet yang berukuran sangat besar, dengan kutub-kutub magnetnya
hampir berdekatan dengan kutub geografis bumi. Sehingga bumi ini dilapisi oleh
medan magnet (magnetosfer) yang berbentuk sebuah perisai yang mirip dengan buah
apel, dimana bumi berada pada inti buahnya dan magnetosfer berada pada kulit
buah apel.magnetosfer ini terdiri dari beberapa lapisan, dengan lapisan
terbawahnya, sabuk radiasi van allen yang berada di sekitar ekuator
(khatulistuwa). Layaknya sebuah perisai, magnetosfer dan sabuk van allen melindungi
bumi dari terpaan partikel angin matahari.
Ketika angin
matahari menerpa magnetosfer, partikel-partikel angin matahari dibelokkan dan
tertarik menuju kutub medan magnet bumi. Semakin tinggi energi partikel, maka
semakin dalam lapisan magnetosfer yang berhasil ditembus olehnya. Aliran
partikel yang tertarik ke kutub medan magnet bumi akan bertumbukan dengan
atom-atom yang ada di atmosfer. Energi yang dilepaskan akibat reaksi dari
proton dan elektron yang bersinggungan dengan atom-atom di atmosfer, dapat
dilihat secara visual melalui pendar cahaya yang berwarna-warni di langit, atau
yang kita kenal sebagai Aurora. Di kutub utara bumi, aurora ini disebut sebagai
aurora borealis, dan di kutub selatan, disebut sebagai aurora australis. Reaksi
antara partikel angin matahari dengan atmosfer bumi, menghasilkan berbagai
macam warna pada aurora. Perbedaan warna ini dipengaruhi oleh jenis atom yang
berinteraksi dengan proton dan elektron, mengingat pada ketinggian-ketinggian
tertentu, jenis atom penyusun atmosfer tidaklah sama. Pada ketinggian di atas
300 km, partikel angin matahari akan bertumbukan dengan atom-atom hidrogen
sehingga terbentuk warna aurora kemerah-merahan. Semakin turun, yakni pada
ketinggian 140 km, partikel angin matahari bereaksi dengan atom oksigen yang
membentuk cahaya aurora berwarna biru atau ungu. Sementara itu, pada ketinggian
100 km proton dan elektron bersinggungan dengan atom oksigen dan nitrogen
sehingga aurora tervisualisasikan dengan warna hijau dan merah muda.
![]() |
|||
|
|||
2. Crepuscular Ray dan Anticrepuscular Ray
![]() |
Crepuscular Ray
adalah cahaya yang muncul terpancar dari suatu titik di langit (biasanya
matahari). Crepuscular ray muncul melalui celah-celah awan atau benda lain dan
tiap sinar di pisahkan oleh bagian gelap. Sedangkan Anticrepuscular Ray adalah
kebalikan dari crepuscular ray, yaitu sinar yang memancar dari matahari
berkumpul di titik anti solar, yaitu titik yang berlawanan dengan tempat
matahari berada.
3. Sun dog dan Moon dog

Sun dog
atau matahari palsu adalah bintik cahaya terang di langit yang biasanya
muncul bersamaan dengan halo. Sun dog terlihat seperti matahari karena terang
namun biasanya lebih kecil dari matahari. Sun dog sering disalahartikan sebagai
matahari lain yang ada di langit dan kadang-kadang menjadi matahari terbit
palsu yaitu sebuah peristiwa yang jarang terjadi karena matahari yang asli
sebenarnya belum terbit. Sedangkan moon dog adalah bulan palsu yang muncul di
langit saat bulan purnama muncul. Sama seperti sun dog, moon dog juga muncul
bersamaan dengan halo, namun moon dog terjadi lebih jarang karena cahaya bulan
kurang terang dan bulan mengalami pergantian fase.
4.
Pelangi
Proses terjadinya pelangi bermula dari ketika cahaya matahari melewati
sebuah tetes hujan yang kemudian dibelokkan atau dibiaskan menuju tengah tetes
hujan tersebut, yang memisahkan cahaya putih itu menjadi sebuah warna spektrum.
Kemudian, warna-warna yang terpisah ini memantul di belakang tetes hujan dan
memisah lebih banyak lagi saat meninggalkannya. Akibatnya, cahaya tampak
melengkung menjadi kurva warna yang disebut sebagai pelangi. Cahaya dengan
panjang gelombang terpendek seperti ungu, terdapat di bagian kurva dan yang
memiliki panjang gelombang terpanjang seperti merah terdapat pada bagian luar.
Pada abad ke-17, ilmuwan inggris, Isaac Newton, (1642 -1727) menemukan
bahwa cahaya putih matahari sebenarnya adalah campuran dari cahaya berbagai
warna. Dia menyorotkan sedikit sinar matahari melalui sebuah prisma kaca berbentuk
segitiga (balok kaca) dalam sebuah ruang gelap. Bentuk prisma tersebut membuat
berkas sinarnya membelok dan kemudian memisah menjadi suatu pita cahaya yang
lebar. Di dalam pita ini, Newton melihat tujuh warna yang disebut spektrum.
Warna-warna ini adalah merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu
(sebutan mudahnya “mejikuhibiniu”).
Semua cahaya bergerak dalam bentuk gelombang. Panjang gelombang adalah yang
menentukan warna cahaya tersebut. Kadang, sebuah pelangi kedua yang lebih redup
dapt terlihat di atas pelagi utama karena cahaya telah dipantulkan atau
dibiaskan lebih dari sekali di dalam tetes-tetes air hujan. Warna-warna pelangi
kedua ini terbalik, merah di dalam dan ungu diluar. Warnanya tidak pernah
secerah pelangi utama karena setiap kali cahaya dipantulkan, ada sedikit cahaya
yang hilang.
Pada tahun 1852, ilmuwan Jerman, Ernst Von Brycke, menyatakan bahwa warna
biru langit diakibatkan oleh partikel-partikel di atmosfer yang menyebarkan
cahaya matahari saat memasuki atmosfer. Kemudian, dua fisikawan Inggris, Lord
Rayleigh (1842-1919) dan John Tyndall (1820-1893) mempunyai penjelasan lain.
Rayleigh berpendapat bawah bagian biru dari cahaya matahari disebarkan oleh
debu dan uap air, tetapi dia salah. Molekul udara sendirilah yang menyebarkan
cahaya. Meskipun demikian kita masih menyebut jenis penyeberan ini sebagai efek
Tyndall, atau penyebaran Rayleigh, sesuai dengan nama kedua ilmuwan tersebut.
Pelangi dan efek cahaya lain di langit disebabkan oleh cahaya yang membias
dan menyimpang menjauhi partikel. Saat Matahari terbenam, langit menjadi merah
karena sinar matahari lewat melalui atmosfer yang jauh lebih tebal daripada
ketika matahari berada tinggi di langit pada siang hari. Cahaya biru disebarkan
diluar jalur cahaya, dan kita melihat panjang gelombang yang lebih merah.
5. Halo

Halo Matahari adalah lingkaran pelangi yang mengelilingi Matahari. Halo juga bisa terjadi di sekitar Bulan pada malam hari. Fenomena halo ini disebabkan pembiasan cahaya Matahari oleh uap air di atmosfer sehingga terlihat seperti pelangi. Proses terbentuknya Halo Matahari sama seperti proses terbentuknya pelangi, hanya dalam hal ini tidak mengandung air, sehingga yang tampak hanya bayangan saja berbentuk cincin. Ketika musim hujan, partikel uap air ada yang naik hingga tinggi sekali di atmosfer. Partikel air memiliki kemampuan untuk membelokkan atau membiaskan cahaya matahari. Apabila hal tersebut terjadi saat posisi matahari sedang tegak lurus dengan bumi, maka akan terbentuk lingkaran gelap disekitar matahari. Hal ini disebabkan saat matahari pada posisi tegak lurus terhadap bumi kemampuan partikel air membiaskan cahaya lebih kecil sehingga warna yang terlihat sangat terbatas. Warnanya terlihat gelap karena pandangan ke arah matahari juga terhalang debu.
Berbeda dengan proses terbentuknya pelangi yang sering terjadi di pagi atau sore hari yang membentuk sudut kemiringan. Pada posisi yang miring ini, kemampuan partikel air membiaskan cahaya lebih besar, sehingga warna-warna yang muncul juga lebih lengkap. Jika terjadi pada pagi hari, udara masih dalam keadaan bersih sehingga akan tampak warna kemerahan.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Astronomi
adalah ilmu tentang perbintangan, ilmu ini mempelajari asal-usul, evolusi,
sifat fisik dan kimiawi benda-benda yang bisa dilihat dari langit dan diluar
bumi, juga sistem ketatasuryaan yang berlaku sejak alam semesta ini diciptakan.
Tata surya adalah kumpulan benda langit yang terdiri atas sebuah bintang yng
disebut matahari dan semua objek yang mengelilinga. Optik adalah
cabang fisika yang menggambarkan perilaku dan sifat cahaya dan interaksi cahaya dengan materi.
Beberapa
fenomena telah terjadi dari astronomi, tatasurya dan optik. Seperti aurora, hujan
besi dan sebagainya. Sehingga manusia melakukan penelitian dan mengetahui
proses terjadinya.
4.2 Saran
Dengan
karya tulis ini mudah-mudahan dapat bermanfaat khusunya bagi penyusun umunya
bagi semuanya.
DAFTAR
PUSTAKA
Herabudin.
2010. Ilmu Alamiah Dasar. Bandung: CV
Pustaka Setia
tata.html#ixzz2hlGzBCI
surya.html
http://islamisasisains.blogspot.com/2009/01/tata-surya-dalam-pandangan-al- quran.html
http://tokoh-ilmuwan-penemu.blogspot.com/2009/08/tokoh-pelopor-ilmu-optik- cahaya.html
http://www.merdeka.com/teknologi/tekmatis-sejarah-astronomi-dalam-islam- 2.html
http://universitaskehidupanislam.blogspot.com/2013/04/sejarah-ilmu-astronomi- islam.html
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/08/08/m8fvse- meneropong-dunia-dengan-ilmi-optik-4habis


















0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda